RMP Sosrokartono, Pahlawan yang Terlupakan (3)

Diposting pada

Pejuang Kemerdekaan dan Simbol Kebangkitan Intelektual
SEPUTAR KUDUS – Meski dikenal dekat dengan para bangsawan Belanda dan beberapa ilmuan asal Negeri Kincir tersebut, Sosrokartono tidak pernah melupakan kampung halamannya. Diketahui bahwa salah satu pembimbing R.A Kartini dalam menuliskan surat keprihatinannya akan nasib pendidikan warga pribumi adalah dirinya. Pada 29 Agustus 1899 dalam Kongres ke-25 Bahasa dan Sastra Belanda di Gent, Belgia  Sosrokartono menyampaikan pidato yang menggemparkan. 


“Saya minta dengan sangat dan bersungguh-sungguh, hendaklah kepada insulinde ditumpahkan cinta kasih, cinta kasih yang wajib diberikan kepadanya sebagai hak miliknya. Hai, kamu bangsa penjajah, pada tangan kirimu kamu menggenggam lambang utusan/ajaran untuk damai di antara sesama manusia, dengan tangan kananmu kamu memegang tongkat lambang peradaban, maka dari itu hidupkanlah rasa persaudaraan antara bangsamu dan bangsa yang engkau jajah,” seru Sosrokartono agar Belanda mengajarkan bahasanya lebih luas bagi rakyat Jawa. Pernyataan kerasnya itu dimuat di majalah bulanan Neerlandia, sebulan kemudian.


Tak dapat dimungkiri bahwa Sosrokartonolah yang menginspirasi Kartini dalam memperjuangkan hak-hak pribumi. Mereka sering sekali berkirim surat dan menceritakan tentang keadaan mereka masing-masing di negeri yang saling berjauhan. Salah satu sahabat Kartini yang juga berhubungan baik dengan Sosrokartono adalah Abendanon. 


Pada tahun 14 Juli 1925 dalam surat Sosrokartono yang dikirimkan kepadanya menyebutkan rasa berangnya akan perilaku birokrat Hindia Belanda yang masih saja menganggap kaum pribumi sebagai kuli, meskipun mereka hidup bertahun-tahun di negeri jajahannya tersebut. 


Sosrokartono menemukan pengesahan intelektual pada tahun 1908 dengan penerimaan gelar Doctorandus in de Oostersche Talen dalam bidang bahasa dan sastra. Sebuah tanda yang turut menginisiasi kebangkitan intelektual-modern Indonesia. Satu hal yang dirasa menjadi ancaman bagi pemerintah kolonial. Sosrokartono gagal secara akademik mencapai gelar doktor akibat kebencian dan dendam dari juru bicara kolonialisme dan orientalisme Prof Dr Snouck Hurgronye. 
  
Sosrokartono mendapat tuduhan sebagai simbol kebangkitan intelektual dan nasionalisme pribumi. Namun, Sosrokartono tetap mendapat nama, menjadi fenomena, juga problema di Eropa. Mohammad Hatta (1982) menjuluki Sosrokartono sebagai manusia genius. Hatta mengisahkan tentang perjamuan makan Sosrokartono dan kaum etis (Mr Abendanon, Mr Van Deventer, Prof Dr Snouck Hurgronye, dan Prof Hazeu). 


Sosrokartono hadir dalam perjamuan makan sebagai intelektual kosen yang disegani. Kaum etis itu ingin menanggung utang kolonial mereka dengan, antara lain, membantu Sosrokartono merampungkan disertasi doktoralnya. Namun, Sosrokartono menjawab tawaran itu dengan sebuah satir: 


“Maaf tuan-tuan yang terhormat, utang itu adalah satu-satunya harta saya. Harta saya satu-satunya itu apakah akan tuan ambil juga dari saya,” Satir itu merupakan hantaman keras bagi politik etis. 


Motif kolonial untuk mengembalikan utang sejarah mereka dengan mengembalikan kerugian budi dan materi tak mungkin dapat dipenuhi hanya dengan edukasi, irigasi, atau migrasi. Operasionalisasi politik etis justru mengandung dilema untuk mengantarkan pada pintu emansipasi atau westernisasi melalui sihir pemikiran intelektual. (Mase Adi Wibowo)

Artikel terkait:
Sosrokartono (1) Mahasiswa pribumi pertama belajar di luar negeri
Sosrokartono (2), seoarang jenius menguasai 27 bahasa
Sosrokartono (3) simbol kebangkitan intelektual
Sosrokartono (4) kemabali ke Indonesia
Sosrokartono (5-habis) jenazahnya disemayamkan di Kudus