Kerbau Simbol Toleransi Umat Beragama di Kudus

Diposting pada

KUDUS-Hari raya kurban tinggal menghitung hari lagi. Aktivitas pedagang di pasar hewan, Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus sudah semakin ramai transaksi jual beli hewan kurban. Namun, di blok hewan kerbau terlihat lebih ramai dibanding dengan blok hewan sapi. Hal ini tidak lepas dari tradisi masyarakat Kudus yang lebih memilih menyembelih kerbau, karena toleransi yang diwariskan Sunan Kudus.

Hiruk pikuk para pedagang dan pembeli tampak sangat ramai di pasar hewan satu-satunya di Kudus itu. Ratusan pedagang dan pembeli itu tidak hanya memadati lokasi pasar di tengah sawah itu, namun juga di sepanjang Jalan Sempalan, yang melintasi pasar. Para penjual tampak menjajakan hewan dagangan untuk ditawarkan kepada para pembeli.

Salah satu pembeli, Karno (50) yang ditemui di pasar hewan kemarin mengatakan, dirinya sedang mencari hewan kerbau yang akan dibuat hewan sembelihan saat hari raya kurban nanti. Meski harga kerbau relatif lebih tinggi dibanding sapi, namun ia lebih memilih kerbau karena tradisi yang diwariskan Sunan Kudus.

“Dulu Sunan Kudus pernah melarang masyarakat muslim untuk menyembelih sapi. Larangan itu, semata karena ingin menghormati masyarakat Hindu di Kudus, yang mengagungkan sapi sebagai sembahan. Ajaran Mbah Sunan, berupa toleransi itu kemudian dipertahankan oleh masyarakat muslim Kudus, hingga sekarang,” tutur Karno.

Maskur (46), Salah satu pedagang hewan kerbau, mengaku penjualan kerbau miliknya bisa mencapai dua sampai empat ekor setiap hari, menjelang hari raya kurban. Dia memperkirakan peningkatan penjualan hewan kurban miliknya mencapai sekitar 20 persen. Setiap kerbau yang ia jual, seharga Rp 10 juta hingga 13 juta.

“Masyrakat Kudus memang lebih memilih kerbau untuk hewan sembelihan. Hal ini sudah terjadi turun-temurun,” kata Maskur, saat ditemui di pasar hewan, Kamis (3/11) kemarin. Menjelang hari raya, menurut warga Desa Kaliwungu, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus itu, kebanyakan pembeli adalah mereka yang akan melakukan kurban.

Maskur mendapatkan hewan kerbau dari beberapa peternak di Kudus, Grobogan, Blora, dan Tuban. Menjelang hari raya kurban, dirinya tidak hanya menjajakan hewan dagangannya di pasar khusus hewan tersebut, namun juga menerima pesanan dari beberapa panitia penyembelihan hewan kurban. Kenaikan harga menjelang hari raya tidak begitu tinggi, hanya sekitar 10 persen saja.

Sementara itu, di panitia penyembelihan hewan kurban Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK), sama sekali tidak menyembelih sapi dalam dalam perayaan hari raya kurban yang akan datang. Tradisi tersebut, sudah berjalan dari ratusan tahun silam.

“Meski kondisi saat ini sudah berubah dibanding dengan masa Sunan Kudus yang lampau, namun tradisi ini masih tetap kami jaga sebagai warisan ajaran toleransi yang patut dipertahankan,” kata Koordinator penyembelihan hewan kurban, YM3SK, saat ditemui di kompleks Masjid Menara Kudus, siang kemarin.

Di tahun lalu, pihak YM3SK menerima 11 kerbau dan 28 kambing dari masyarakat untuk disembelih. Untuk tahun 2011 ini, pihaknya belum bisa menyebutkan berapa kerbau yang akan disembelih. Sebagai tradisi, biasanya pihak YM3SK menyembelih hewan kurban di hari Tasyrik yang terakhir, yakni tanggal 11 Dzulhijah. Setelah disembelih, daging kurban kemudian dibagikan kepada masyarakat di sembilan kecamatan, di Kudus. (Suwoko)