KH Turaichan Adjhury, Ahli Falak dari Kudus (1) Tak Pernah Mondok di Pesantren

Diposting pada

Tak Pernah Mondok di Pesantren

SEPUTAR KUDUS – Nama KH Turaichan Adjhury atau sering dipanggil Mbah Tur, seorang alhi falak atau astronomi sangat melekat bagi ahli falak di Indonesia, khususnya masyarakat Kudus dan sekitarnya. Ketika masih hidup, beliau menjadi rujukan bagi masyarakat dan ahli falak lain dalam penentuan tanggal 1 Ramadhan dan 1 Syawal dalam penanggalan Hijriyah. Masyarakat merujuk beliau melalui kalender cetakan Menara Kudus yang sangat melekat sejak puluhan tahun yang lalu.

Ilmu falak bagi masyarakat Muslim sangatlah penting, karena banyak ubudiyah atau ibadah sehari-hari yang ditentukan melalui waktu-waktu penanggalan Hijriyah. Waktu salat, jadwal adzan, dan penanggalan, bahkan penentuan arah kiblat ditentukan dengan perhitungan ilmu falak. Sehingga ahli falak sangat dibutuhkan peranannya meski sekarang peralatan canggih dalam ilmu perbintangan sudah banyak digunakan.

Penanggalan Hijriyah atau sering juga disebut tanggal Qomariyah, mendasarkan perhitungan pada perputaran bulan pada porosnya. Sedang penanggalan masehi atau miladiyah yang umum dipergunakan masyarakat dihitung berdasarkan putaran matahari atau syamsiyah dari porosnya. Kedua jenis penanggalan ini sangat berbeda dalam metode perhitungannya, banyak terjadi selisih hari sehingga penanggalan masehi dan Hijriyah tidak pernah sama.

Kelahiran

KH Turaichan Adjhury adalah ulama dari Kudus yang sangat disegani pada masanya. Beliau dilahirkan pada 10 Maret 1915 dari pasangan Adjhuri dan Sukainah di Desa Langgardalem RT 3 RW 1, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus yang hanya berjarak sekitar 25 meter dari Masjid Menara Kudus. Terlahir dari keluarga kiai dan hidup dilingkungan agamis, Mbah Tur –Sapaan Turaichan Adjhury– pada masa kecilnya belajar dari para ulama di lingkungan tempat tinggalnya yang sejak dulu terkenal sebagai lingkungan santri.

Salah satu cucunya, Aufa Dzaka (24) saat ditemui (31/7/2011) di kediamannya yang dulu ditempati Mbah Tur semasa hidup, menceritakan, ulama salaf tersebut berbeda dengan ulama-ulama dari daerah lain. Umumnya para ulama masa kecilnya belajar di pesantren atau mondok, namun Mbah Tur semasa hidupnya tidak pernah mondok.

“Simbah dulu belajar di sekolah formal, yakni Tasywiqut Thulab Salafiyah (TBS) Kudus pada umur belasan tahun. Beliau generasi pertama sekolah tersebut yang berdiri sekitar tahun 1928″ katanya. Menurut Dzaka, Mbah Tur juga ikut membantu mengajar kepada adik-adik kelasnya, karena dianggap mempunyai kemampuan di atas rata-rata murid yang lain. Selain belajar dan mengajar di sekolah tersbut beliau juga banyak menimba ilmu dari ulama lain di Kudus.

Dzaka menambahkan bakat menjadi seorang ahli astronomi dalam perhitungan penanggalan hijriyah, atau dikenal dengan sebutan ahli falakiyah sudah muncul sejak kecil. Kecintaannya terhadap ilmu eksakta tersebut membawanya menjadi totoh falkiyah yang sangat disegani, selain juga menjadi ulama kharismatik yang menguasai ilmu fikih yang memuat tentang hukum Islam yang mengatur ubudiyah dan ilmu tasawuf atau filsafat. (Suwoko)