KHR Asnawi dan KH Turaichan, Pahlawan di Kudus Berjuang Melalui ‘Tinta’

Diposting pada

SEPUTAR KUDUS – KHR Asnawi dan KH Turaichan Adjury Assarofi (Tajusyarof), merupakan nama-nama yang sudah mafhum di kalangan masyarakat Kudus sebagai ulama. Dua keturunan Syech Ja’far Sodik (Sunan Kudus) tersebut sangat dikenal karena keilmuannya. Keduanya juga turut berjuang semasa prakemerdekaan dan pascakemerdekaan melalui “tinta”.

Berbagai sejarah yang tertutur melalui lisan yang masih ada di kalangan masyarakat Kauman Mendara Kudus, khususnya santri, pada masa hidupnya KHR Asnawi adn KH Turaichan turut berjuang melawan penjajah. Namun, beliau tidak berperang mengangkat senjata, namun melalui pendidikan.

Menurut penuturan cucu KHR Asnawi, KH Minan Zuhri Asnawi (almarhum), kakeknya sering diburu penjajah, baik pada masa pendudukan Belanda maupun Jepang. Pidato-pidato KHR Asnawi di hadapan masyarakat, khususnya umat Islam, dianggap provokatif dan membahayakan pemerintahan kolonial. Kiai yang juga menciptakan syaif Sholawat Asnawiyah tersebut, merupakan sosok yang sangat berpengaruh pada saat itu.

Keteguhannya dalam memperjuangkan kemerdekaan, dilakukan KHR Asnawi melalui pengajaran kepada masyarakat. Beliau mendirikan sebuah madrasah di Kenepan, tak jauh dari kompklek Menara Kudus, untuk mengajarkan ilmunya. Madrasah tersebut dipercaya sebagian masyrakat Kudus, sebagai sekolah pertama yang berdiri di Kota Kretek. Madrasah Kenepan tersebut, kini telah berubah menjadi Madrasah Qudsiyyah.

Perjuangan memerdekakan bangsanya, tak hanya dilakukan melalui pendidikan dengan mengajarkan ilmu kepada masyarakat. Namun, KHR Asnawi juga aktif dalam dunia pergerakan. Beliau merupakan salah satu pendiri organisasi massa terbesar di Indonesia saat ini, yakni Nahdhatul Ulama (NU). Bersama sejumlah kiai di Jawa, termasuk KH Hasyim As’ari dan KH Wahab Hasbullah, KHR Asnawi mendirikan NU sebagai alat perjuangan melawan penjajah melalui perkumpulan.

Hal sama juga dilakukan KH Turaichan. Beliau aktif mengajarkan ilmu kepada masyarakat di Kudus pada masa penjajahan. Keteguhannya itu, membuat pemerintah kolonial sempat geram karena beliau aktif memberikan pendidikan kepada masyarakat. Hal itu tentu dinilai pemerintah kolonial membahayakan kedudukan mereka di Indonesia.

KH Turaichan, juga mendirikan sebuah sekolah di lingkungan Kauman Menara Kudus. Sekolah tersebut diberi nama Taswiqut Thulab Salafiah (TBS). Ada sebuah cerita yang berkembang di kalangan santri hingga saat ini, KH Turachan sempat mengelabuhi pemerintah kolonial dengan keberadaan sekolah tersebut.

Berdasarkan cerita yang berkembang tersebut, pemerintah kolonial pernah mendatangi sekolah itu. Dia menanyakat apa kepanjangan dari TBS. Dijawab KH Turaichan, bahwa TBS kepanjangan dari Taswiqut Thulab School. Dan sekolah tersebut mengajarkan ilmu-ilmu umum dari Eropa, bukan ilmu agama.

Konon, jawaban tersebut dipercaya pemerintah kolonial, sehingga keberadaannya tidak dicurigai. Sehingga aktivitas pendidikan di TBS yang mengajarkan ilmu agama, bisa tetap berlangsung, bahkan hingga saat ini. Wallahu A’lam. (Mase Adi Wibowo)