Nyambung Balung Pedot, Cara Kami Melepas Rindu Masa Kuliah

Diposting pada
buka bersama alumni mahasiswa FKIP UMK 2003
Foto bersama alumni FKIP BI UMK Angkatan 2003, saat temu kangen dan buka bersama di Estu Coffeeshop.



SEPUTARKUDUS.COM – Kalimat nyambung balung pedot begitu saja melintas di pikiran, saat saya didaulat untuk mengkoordinir kawan-kawan satu angkatan mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Bahasa Inggris (BI) Univresitas Muria Kudus (UMK) tahun 2003. Pada Rabu (8/7/2015) saya diminta beberapa kawan satu angkatan untuk mempersiapkan temu kangen dan buka bersama di Kudus.

Ide untuk menyelenggarakan temu kangen berawal dari sebuah posting foto seorang teman di timeline akun Facebook miliknya, Selasa (7/7/2015). Teman saya itu setelah lulus mengajar di sebuah SMA di Kalimantan. Dia mengunggah beberapa foto buka bersama dengan teman yang kebetulan mudik dari Quwait. Merka berbuka bersama di Omah Mode, Jalan A Yani, Kudus. Komentar pun bermunculan dari teman-teman satu angkatan lainnya. Mereka iri karena tak diundang dalam mini reuni tersebut.

Yang empunya foto mencetuskan ide untuk membuat acara temu kangen yang lebih meriah. Komentar pun bersahutan, dan akhirnya nama saya disebut secara tertaut dalam sejumlah komentar. Beberapa ada yang usul, saya yang harus ketiban awu anget, ngurusi ide temu kangen itu. Alasan mereka, saya tinggal di Kudus yang dinilai bisa mewujudkan keinginan mereka, (dipikir aku ga sibuk tah piye, hahaha).

Pada hari berikutnya saya baru ngeh namaku disebut, karena ada pemberitahuan di akun Facebook setelah membuka telepon pintar. Wow, ramai sekali komentarnya. Karena merasa “terpojok”, ya wis lah saya menerima daulat teman-teman satu angkatan itu. Dan sebenarnya, alasan paling kuat saya menerima daulat, karena ada embel-embel presiden fakultas di depan nama saya (rodo mongkok). Wah, ternyata ada yang tidak bisa move on, atau jangan-jangan itu hanya nyolu.


Saya kemudian usul acara temu kangen diselenggarakan di Omah Mode lagi. Waktunya saya usulkan pada Jumat (10/7/2015). Usulan waktu saya disepakati. Tapi untuk tempat, sebagian dari mereka tidak sepakat. Ada yang beralasan tidak cocok dengan rasa hidangannya. Tapi ada juga yang menilai mahal. 

Saya lantas mengusulkan tempat alternatif di Estu Coffeeshop, di Jalan Sosrokartono, tak jauh dari permpatan Panjang. Selain karena tempat nongkrong favorit saya, yang empunya juga saya kenal dekat. Dia dosen di almamater kami. Dan akhirnya usulah tempat alternatif itu akhirnya diterima secara mufakat.

Karena ahli desain grafis (ojo percoyo), saya kemudian membuat poster digital tentang acara tersebut dan saya unggah di akun Facebook. Semua teman satu angkatan saya tag. Banyak dari mereka kemudian membagi ke timeline. Koordinasi kami lakukan melalui post comment. Tapi ada juga yang membuat multychat di BBM. Wow, undangan pertemanan di BBM kemudian gembrudug dengan nama-nama dan font alay yang tak saya kenal. Apalagi profil mereka bukan foto asli. Setelah saya terima, kemudian banyak yang tanya soal kegiatan tersebut.

Saya kemudian menginventaris siapa saja yang berniat untuk gabung. Hingga Jumat siang, tercatat ada 20 orang yang menyatakan diri akan hadir. Saya memang memaksa mereka untuk memberi kepastian, karena ini menyangkut berapa hidangan dan kursi yang dipesan. Dan yang lebih krusial, sebetulnya terkait thuthukan yang akan dibuat bayar suguhan berbuka bersama nanti. Kalau sampai ada yang tidak hadir, wah ciloko iki. Maklum, saya ini kan masih jadi kuli yang THR-nya tak seberapa, (jatah nggo bodo soale). 

Menjelang acara dimulai, ketakutan saya benar-benar terjadi. Beberapa teman ada yang BBM tidak bisa hadir. Alasannya ada banyak macam. BBM itu saya jawab, “ya wis lah, ga popo. Sante Kartini wae,”. Tapi Alhamdulillah, menjelang waktu berbuka, banyak teman yang tak masuk daftar list ikut datang. Tuhan memang berpihak pada hamba-Nya yang terpojok. Wis, lego.


Wajah-wajah kami sumringah, dan saya pun demikian. Bukan karena lolos dari “jebakan”, tapi karena bahagia melihat wajah-wajah lama, yang sekian tahun tak saya lihat secara langsung. 

Meski tak ada susunan acara yang dibuat, temu kangen itu tetap gayeng. Mereka banyak bercerita tentang kehidupannya saat ini. Ada yang jadi bos busana muslimah yang telah memiliki beberapa cabang di daerah lain, ada yang berbisnis jualan mobil, menggeluti hidroponik, dan lainnya. Tapi sebagian besar dari mereka, mengamalkan ilmu yang mereka dapat di kampus, mengajar sebagai guru di sekolah. Ternyata hanya saya yang mlesat jadi jurnalis. 

Usai acara, saya baru nyadar, kalimat nyambung balung pedot yang seketika muncul setelah didaulat sebagai panitia senggel, dan saya jadikan tagline, memang tepat. Kami ini ibarat tulang-tulang yang terserak usai lulus dari kampus. Ada mlesat ke Kalimantan, Pati, Demak, Jepara, hari ini tersambung. Dengan acara ini kami bisa berkumpul, meski setelah itu, mlesat kembali.

Ditulis oleh Suwoko
NB: Paragraf lima dan enam dari bawah tidak usah dianggap ya. Itu hanya bumbu tulisan yang butuh konflik, agar seru.

Foto-foto lainnya: klik disini