Menyusuri Kota Lama Kudus, dari Bangunan Kuno Hingga Lorong Sempit

Diposting pada

SEPUTARKUDUS.COM – Apa yang terlintas saat menyusuri perkampungan di sekitar Menara Kudus? Mungkin bangunan kuno, tembok tinggi dan lorong-lorong sempit akan muncul. Di sana lah kota lama Kudus yang dibangun pada masa Syekh Ja’far Shodiq atau lebih dikenal sebagai Sunan Kudus menyebarkan Islam di tanah Tajug.

kota lama kudus
Selumlah warga melintas di kawasan Kota Lama Kudus yang dipenuhi bangunan-bangunan kuno. (Foto Seputarkudus.com)

Bangunan-bangunan kuno menghiasi kawasan Kota Lama Kudus di sekitar bangunan Menara Kudus, di Desa Kauman, Kecamatan Kota. Ciri bangunan kuno tersebut memiliki pintu dan jendela yang terbuat dari kayu lama. Selain itu bangunan yang ditinggali penduduk sekitar Menara itu memiliki tembok tebal dan tinggi.

Ciri lain yang bisa dilihat hingga sekarang, yakni permukiman padat, lorong-lorong sempit. Jalan perkampungan yang berkelok tersebut hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki, menggunakan becak atau sepeda motor. 

lorong sempit kota lama kudus
Lorong sempit dan tembok tinggi ciri khas permukiman Kota Lama Kudus. (Foto: Seputarkudus.com)

Selain memiliki ciri khas lorong-lorong sempit, permukiman yang sering disebut kawasan Kudus Kulon itu juga memiliki tembok-tembok yang tinggi. Tembok-tembok tersebut memisahkan rumah warga yang satu dengan lainnya. Tembok tersebut dibangun memiliki fungsi menyerupai pagar atau benteng sebagai pelindung atau menjaga privasi pemilik rumah.

Disebut Kota Lama, karena di sana lah Sunan Kudus membangun pusat peradaban pertama sekitar tahun 956 Hijriyah atau 1549 Masehi. Berdasarkan data yang termuat di Wikipedia, selain sebagai pusat penyebaran Islam yang berpusat di Masjid Menara Kudus, juga digunakan untuk menjalankan pemerintahan. 

menara kudus pusat peradaban
Bangunan Menara Kudus dan Masjid Al-Aqsha sebagai pusat pemerintahan dan penyebaran Islam. (Foto: Seputarkudus.com)

Sunan Kudus membangun kota tersebut yang sebelumnya bernama Tajug. Disebut Tajug karena sebelumnya di sana banyak terdapat bangunan-bangunan tajug yang digunakan masyarakat pra-Islam untuk beribadah. Sunan Kudus kemudian mengganti nama Tajug menjadi Kudus, yang artinya suci.

Kultur dan kebudayaan Islam yang dibawa Sunan Kudus kemudian membentuk karakter masyarakat setempat. Karakter tersebut saat ini sering diungkapkan dalam sebuah akronim Gusjigang. Akronim itu berasal dari tiga kata, yakni bagus, pinter ngaji, dan pinter dagang. Karakter tersebut hingga kini masih dimiliki masyarakat Kudus Kulon.

Disebut Kudus Kulon, karena letak Kota Lama yang berada di sebelah barat (kulon) Sungai (kali) Gelis. Beberapa desa yang berada di Kudus Kulon di antaranya, Desa Kauman, Kerjasan, Langgar Dalem, Demangan, Janggalan, Damaran dan Kajeksan. Desa-desa tersebut dulu berada di pusat kota atau pusat pemerintahan. 

Selain desa/kelurahan tersebut, ada sejumlah desa/kelurahan yang juga masuk dalam Kudus Kulon, namun wilayahnya berada dipinggiran pusat Kota Lama. beberapa desa tersebut antara lain, Krandon, Singocandi, Purwosari, dan Sunggingan.

Kawasan Kudus Kulon saat ini disebut Kota Lama karena pusat pemerintahan telah berpindah ke timur Sungai Gelis atau Wetan Kali. Beberapa desa yang masuk kawasan Wetan Kali, dulu dihuni penduduk Tionghoa. Antara lain di Panjunan, Kramat dan Wergu Kulon.