Masjid di Bareng Ini Didirikan Sebelum Masjid Demak, Arahnya Tak Menghadap Kiblat

Diposting pada
SEPUTARKUDUS.COM, JEKULO – Siang itu, santri-santri duduk santai di teras Masjid Baitussalam, Desa Jekulo, Kecamatan Jekulo, Kudus. Ketika kumandang adzan Dzuhur terdengar, mereka segera mengambil wudlu dan berbaris membuat shaf salat di ruang utama masjid. Namun shaf jamaah salat siang itu tidak lurus mengikuti arah masjid. Jamaah menghadap beberapa derajat arah barat, sedangkan arah masjid lurus ke arah barat daya.
masjid jekulo kudus
Seorang santri akan menunaikan ibadah solat di Masjid Baitussalam, Jekulo, Kudus. Foto: Imam Arwindra

Ketika selesai salat Dzuhur, satu di antara pengasuh Pondok Pesantren Al-Qaumaniyah yang berada tak jauh dari Masjid Baitussalam, Gus Khidir membenarkan, masjid Kuman Jekulo tidak menghadap kiblat, melainkan barat daya. Namun untuk arah salat tetap menghadap ke Kiblat. 

“Masjid ini (Baitussalam) memang mengahadap arah barat daya, bukan ke kiblat. Namun untuk arah salatnya tetap menghadap kiblat,” ungkapnya kepada Seputarkudus.com, Selasa (7/6/2016).

Gus Khidir menjelaskan, Masjid Baitussalam didirikan sekitar 1450 Masehi, sebelum Masjid Bintoro Demak dibangun. Masjid Kauman Jekulo itu didirikan oleh Kiai Abdul Jalil, murid Raden Umar Said atau Sunan Muria. Dia menduga, posisi geografis masjid tersebut berubah karena dipengaruhi peristiwa alam, misalnya gempa, pergeseran lempeng tanah atau lain sebagainya.

“Masjid Baitussalam umurnya sudah setengah abad lebih. Saking lamanya mungkin ada proses pergeseran lempeng tanah yang menyebabkan arah kiblat masjid ini berubah,” tuturnya.

Cucu KH Yasin, pendiri Pondok Pesantren Al-Qaumaniyah, itu menuturkan, untuk arah salat tetap menghadap ke kiblat. “Jadi posisi jamaah ngeping (menyilang)” tambahnya.

Gus Kidzir
Gus Khidir. Foto: Imam Arwindra

Gus Khidir memberitahukan, pada 27 Mei 2016 pukul 16.18 WIB ada peristiwa alam Rashdul Qiblat, dimana posisi matahari tepat di atas Kakbah. Dia menceritakan, ketika dicek, memang posisi Masjid Baitussalam menghadap ke barat daya. “Ketika dicek saat Rashdul Qiblat, Masjid Baitussalam memang menghadap ke barat daya,” ungkapnya.

Dia menambahkan, makam pendiri masjid Kiyai Abdul Jalil yang terletak di belakang Masjid Baitussalam juga menghadap ke barat daya bukan ke arah kiblat. “Makam mbah Abdul Jalil dan mbah Sewonegoro (anak mbah Abdul Jalil) juga menghadap ke arah barat daya,” tuturnya.

Menurunya, orang-orang di daerah Bareng (Kauman Jekulo) alim dan pintar. Tidak mungkin mereka salah dalam menentukan arah kiblat.

Gus Khidir menuturkan, Masjid Baitussalam mengalami renofasi total tahun 1968. Bangunan aslinya masih berdiri. Letaknya di bagian ruang tengah yang digunakan untuk solat. “Pembangunan tahun 1968 dibantu H Ma’ruf Jambu Bol. Sebenarnya dibongkar total. Namun ada bangunan asli yang masih dijaga. Yakni ruang tengah untuk salat,” jelasnya.