Raudlatuth Tholibin, Ponpes yang Didirikan KHR Asnawi pada Masa Penjajahan Belanda

Diposting pada

SEPUTARKUDUS.COM, KERJASAN – Bangunan bertingkat dengan dinding bercat hijau berdiri tak jauh dari Polytron, tampak beberapa pria memakai peci asik mengobrol sambil memegangi sebuah kitab. Bangunan yang terletak di Jalan Kiai Haji Raden (KHR) Asnawi, Dukuh Bendan, Kelurahan Kerjasan, Kecamatan Kota, Kudus, itu merupakan Ponpes Raudlatuth Tholibin. Ponpes tersebut didirikan KHR Asnawi, pejuang kemerdekaan sekaligus kiai pendiri Nahdhatul Ulama (NU).

ponpes raudlatuth tholibin kudus

KH Hafid Asnawi (67) cicit dari KHR Asnawi menuturkan, Ponpes Raudlatuth Tholibin didirikan kakek buyutnya pada tahun 1927, di atas tanah wakaf dari bapak mertuanya yang bernama KH Abdullah Faqih. Pendirian pondok tersebut didukungan para saudagar dan para dermawan Muslim di Kudus, yang saat itu masih dalam masa penjajahan Belanda.

“Mertua beliau berharap dengan mendirikan Ponpes, KHR Asnawi bisa menyebarkan Aqidah Ahlusunah Wal Jamaah tanpa harus berkeliling dari daerah satu ke daerah yang lain,” ujar Kiai Hafid Asnawi kepada Seputarkudus.com, belum lama ini.

Namum kenyataanya, kata Kiai Hafid, kakek buyutnya selain memberikan pendalaman beberapa kitab kepada santrinya, kadang masih menyempatkan berdakwah berkeliling daerah untuk  menyebarkan Aqidah Ahlusunah Wal Jamaah. Beberapa daerah tersebut di antaranya, Tegal, Pekalongan, Semarang  dan lain sebagainya.

Dia menjelaskan, pelajaran yang diajarkan Ponpes Raudhlatuth Tholibin pada waktu itu di antaranya, tafsir Al-Quran, tasawuf dan banyak lagi. “Kalau sekarang pelajaran di Ponpes Raudhlatul Tholibin tidak yang berat-berat, misalnya tafsir ataupun tasawuf,” ujarnya.

Menurutnya, kebanyakan santri di pondok tersebut saat ini umurnya sama dengan siswa MTs maupun MA. Sehingga pelajaran di pesantren disesuaikan. Beberapa pelajaran itu di antaranya Fiqih, Tauhid, Tajwid, serta Nahwu dan Sorof,” kata Pengasuh Ponpes Raudlatuth Tholibin.

Kiai Hafid menambahkan, para santri Ponpes Raudhlatuth Tholibin selain mendalami ilmu agama di pesantren, pagi harinya menuntut ilmu di sekaolah formal. Mereka di antaranya ada yang bersekolah di MAN 2 Kudus, Qudsiyyah, TBS, dan sekolah yang lainya.

“Jadi proses belajar mengajar di Ponpes  Raudhlatut Tholibin dimulai setaelah Ashar sampai sebelum Magrib. Lalu dimulai lagi setelah Magrib sampai Isya. Sedangkan setelah Isya mereka belajar pelajaran sekolah formal,” ungkapnya.

Ponpes Raudhlatuth Tholibin saat ini ada sekitar 70 santri, dan setiap bulan mereka dikenakan biaya Rp 400 ribu. Fasilitas yang ada di pesantren di antaranya, tempat tinggal serta mendapatkan makan tiga kali sehari,” tambah beliau.