Produk Fesyen Ramayana Kalah Laris Dibanding Mi Instan dan Minyak Goreng

Diposting pada

SEPUTARKUDUS.COM, DAWE – Sebuah mobil mini bus terparkir di depan sebuah bangunan rumah bercat putih. Di belakang mobil terdapat dua rak besi berwarna kuning yang dipenuhi pakaian.  Di samping mobil tampak dua orang wanita memakai kaus merah dan biru sedang melayani beberapa pengunjung. Tempat tersebut adalah stan Ramayana pada acara pasar murah di depan Kantor Kecamatan Dawe, Kudus, Selasa (21/6/2016).

Satria Agus Priyono (31), Asisten Manajer Ramayana Kudus menuturkan, pihaknya sudah beberapa kali mengikuti pasar murah yang diselenggarakan Pemkab Kudus, melalui dinas terkait. Tetapi pada acara pasar murah kali ini, pihaknya diundang langsung oleh pihak Kecamatan Dawe. Pihaknya membawa produk fesyen dan sembako.

“Yang laris diserbu pembeli di pasar murah ini mi instan dan minyak goreng. Kami juga membawa produk fesyen, tapi kalah laris dengan sembako,” kata pria yang biasa disapa Yoyok kepada Seputarkudus.com.

Menurut Yoyok, pihaknya membawa beberapa produk fesyen untuk pria dan wanita. Dengan berbagai penawaran diskon 50 persen plus 20 persen serta pembelian tiga potong baju dengan harga Rp 100 ribu.

Selain itu Ramayana juga menjual berbagai macam sembako di antaranya, gula pasir, minyak goreng, dan mi instan. Dari penjualan aneka barang tersebut yang paling laris mi instan dan minyak goreng.

“Mi instan dan minyak goreng sebenarnya sudah habis sekitar pukul 09.00, tetapi aku minta dikirim 15 kardus minyak goreng lagi dan 20 kardus untuk mi instan. Dan sekarang semuanya habis terjual,” ujar Yoyok.

Pria yang berdomisili di Perumahan Salam Indah tersebut mengatakan, total penjualan mi instan di pasar murah Kecamatan Dawe mencapai 40 kardus. Sedangkan minyak goreng terjual sekitar 30 kardus, serta gula pasir tejual sekitar 15 kg.

Menurutnya mi instan dijual secara ecer minimal 5 pcs dengan harga Rp 11 ribu, sedangkan satu karton harganya Rp 75 ribu. Dan untuk minyak goreng dijual satu liter Rp 11 ribu.

“Berhubung sembako yang kami jual sudah habis dan tinggal beberapa kilogram gula pasir yang masih tersisa, kami memutuskan untuk kembali dan tidak mengikuti acara sampai sore,” ujar Yoyok.