Kisah Teladan (10) Sahabat Nabi yang Celaka Karena Terlalu Menyintai Hartanya

Diposting pada

Pada masa Rasulullah ada seorang sahabat bernama Tsa’labah Bin Hatib. Dia merupakan sahabat yang tergolong miskin. Saking miskinnya, dia hanya memiliki sehelai kain yang digunakan bergantian bersama istrinya. Suatu hari selesai salat bersama Rasulullah di masjid, Tsa’labah tergesa-gesa pergi tanpa berdoa. Lalu dia ditegur Rasulullah. 

 “Ya Rasul, saya hanya punya sehelai kain. Setelah saya selesai salat, istri saya di rumah sedang menunggu kain ini untuk digunakannya salat. Doakan saya ya Rasul agar Allah memberi rezeki harta kepada saya,” ucap Tsa’labah kepada Rasul, yang setiap waktu datang ke masjid untuk salat berjamaah.

“Sedikit tapi engkau syukuri lebih baik daripada banyak tapi kamu tidak kuat menerimanya,” sabda Nabi kepadanya.

Di lain waktu, Tsa’labah memberanikan diri untuk didoakan Nabi untuk kedua kalinya. Namun Nabi lagi-lagi menolak. Tsa’labah kemudian datang kali ketiga, dan meminta Nabi mendoakannya agar diberikan rezeqi harta.

“Demi Allah yang telah mengutus-Mu, jika aku diberikan rezeqi akan aku berikan kepada siapa saja yang berhak menerimanya (zakat),” kata Tsa’labah. Nabi pun kemudian berdoa kepada Allah agar sahabat-Nya itu diberi rezeqi harta oleh Allah. 

Mula-mula Tsa’labah diberi seekor kambing oleh Nabi, dan kemudian dipelihara. Kambing itu berkembang biak, sehingga Tsa’labah memiliki banyak sekali kambing untuk diternak. Bahkan, saking banyaknya, dia harus menjauh dari Madinah, untuk menggembalakan kambing-kambingnya.

Tsa’labah yang dulu selalu datang ke masjid untuk salat berjamaah, kini hanya sempat menunaikan salat Jumat sepekan sekali saat pulang ke madinah. Kambing yang semakin banyak, membuatnya bahkan suatu ketika tak bisa ke masjid untuk salat meski sepekan sekali.

Suatu ketika, Nabi teringat dengan Tsa’labah. Dia menanyakan kepada sahabat yang lain perihal Tsa’labah yang tak pernah datang ke masjid. Mendengar cerita dari para sahabat, Nabi bersabda,”Celaka Tsa’labah.”

Suatu hari Nabi mengutus dua orang untuk datang kepada Tsa’labah. Mereka diutus untuk meminta zakat harta yang dimiliki Tsa’labah. Setelah menerima surat yang dibawa dua utusan itu dari Nabi, Tsa’labah membacanya. 

“Ini semacam pajak ya. Nanti saya akan pikir-pikir dulu,” ujar Tsa’labah yang kemudian meminta dua utusan itu pulang tanpa diberikan apapun.

Mendapat laporan dari dua utusan, Nabi kemudian bersabda, “Celakalah Tsa’labah untuk kedua kalinya.” Allah kemudian berfirman menurunkan ayat Taubat, terkait peristiwa tersebut. 

Ketika Nabi membacakan wahyu yang diturunkan Allah tersebut, ada seorang kerabat Tsa’labah yang mendengarnya. Dia pun memberitahukan kepada Tsa’labah. Tak berselang lama, sahabat yang dulu selalu bersalat jamaah dengan Nabi di masjid itu kemudian datang dengan membawa sedekah hartanya.

Namun, Nabi menolah menerima zakat yang diberikan Tsa’labah karena dilarang oleh Allah. Tsa’labah kemudian datang kepada Abu Bakar, Umar, dan Utsman, namun mereka juga menolaknya. Tsa’labah meninggal pada masa kepemimpinan Khalifah Utsman.