Barista: Meracik Kopi Seperti Memperlakukan Pacar, Harus Serius dan Hati-Hati

Diposting pada
SEPUTARKUDUS.COM, GARUNG LOR – Enam orang terlihat berdiri berjajar di balik meja kayu dengan berbagai perlengkapan meracik kopi, di Wajik Coffee, Kudus, belum lama ini. Mereka tampak menunggu air mendidih yang sedang disiapkan panitia lomba. Sambil menunggu air mendidih, secara bergantian mereka menghaluskan biji
kopi menggunakan grinder. Ketika semua bahan sudah siap, mereka
segera meracik kopi dalam lomba Anteman Kopi yang diadakan.

Barista Peracik Kopi di Kudus
Kokok (kemeja kotak-kotak) menuang air panas ke dalam gelas pada lomba Anteman Kopi di Kudus. Foto Imam Arwindra 
Ketegangan mulai muncul saat mereka menimbang serbuk kopi
yang akan diseduh. Secara seksama, mereka melihat penunjuk angka yang terdapat pada
alat timbang. Tak hanya itu, penunjuk angka termometer yang terdapat
dalam ketel panas juga tidak lepas dari pengawasan mereka. Di antara peserta
lomba yakni Kokok yang datang dari Grobogan.
Menurutnya, dirinya baru pertama kali mengikuti lomba meracik kopi. Dia merasa tegang karena memang harus konsentrasi dalam menentukan
takaran serbuk kopi dan air panas. “Membuat segelas kopi sama seperti
memperlakukan pacar atau istri. Harus serius dan hati-hati,” ungkapnya saat
ditemui saat lomba sedang berlangsung.
Barista asal Grobogan yang mempunyai kedai kopi bernama Tag
Coffee menuturkan, dalam seni membuat kopi harus diperhitungkan juga masalah
rasio dan waktu. Menurutnya untuk menyeduh kopi yang baik, panas air antara
80-90 derajat selsius. “Kalau panasnya tinggi nanti rasa kopinya akan pahit.
Karena gosong,” terangnya.
Kepada Seputarkudus.com dia menuturkan, enak atau tidaknya
kopi tergantung dari konsumen. Menurutnya, setiap orang mempunyai lidah yang
berbeda-beda. Jadi tidak ada patokan. “Kalau saya sendiri, kopi enak itu yang
pahit, asem dan manisnya seimbang. Dan paling penting tidak membekas di
tenggorokan,” tuturnya.
Dalam perlombaan dia mengaku membutuhkan waktu sekitar 100
detik untuk membuat kopi. Menurutnya, dia menggunakan panas air 80 derajat
selsius. “Ya inilah seni. Kami sangat menikmatinya,” ungkap dia yang menyukai
kopi jenis Arabika.
Ketua Komunitas Kudus Coffee Enthusiast (KCE) Hazmi (25)
menuturkan, lomba membuat kopi yang bertajuk Anteman Kopi ini baru pertama kali
diselenggarakan dengan peserta diluar Kabupaten Kudus. Menurutnya, mereka
sering melakukan kegiatan serupa hanya dengan anggota KCE saja. “Ini baru
pertama kalinya kami mengundang (penyuka kopi) dari Jepara, Grobogan, Blora,
Pati dan Demak. Mereka sangat antusias untuk hadir,” tutur dia.
Menurutnya, dalam perlombaan tersebut terdapat 24 peserta
yang akan dibagai dalam babak penyisihan, semi final dan final. Untuk juri dari
setiap babak yakni peserta sendiri yang hadir secara bergantian.  Nanti untuk yang medapatkan juara akan mendapat
hadiah berupa biji kopi. “Untuk jenis kopi yang digunakan lomba yakni Arabika,”
tuturnya.
Hazmi yang mempunyai kedai kopi bernama Big Tree di Kudus
menuturkan, KCE setiap bulannya selalu ada pertemuan dengan tempat berpindah-pindah.
Menurutnya, anggota KCE kebanyak pelaku bisnis kopi di Kudus. “Selain
menyalurkan hobi, juga untuk cari teman dan silaturahmi,” tambahnya.