Bosan Mencari Kerja, Novi Pilih Buka Usaha Pembuatan Aksesoris Wanita Bermodal Rp 50 Ribu

Diposting pada

SEPUTARKUDUS.COM, PURWOSARI – Berbagai jenis aksesoris pakaian wanita tampak di ruang tamu rumah di Dukuh Gribigan RT 4 RW 6, Kelurahan Purwosari, Kota Kudus. Di sana, terlihat tiga perempuan berkerudung sedang melakukan proses pembuatan aksesoris. Tempat usaha tersebut milik Noviana Tristiyanti (28). Dia membuka usaha itu karena bosan melamar kerja tapi tak kunjung dapat.

Aksesoris wanita hasil produksi tempat usaha milik Novio di Purwosari, Kudus. Foto: Ahmad Rosyidi

Novi, begitu dirinya akrab disapa, menceritakan awal memulai usaha hanya dengan modal Rp 50 ribu. Dengan modal tersebut, dia kemudian membuat aksesoris wanita sebisanya dan dipasarkan secara daring sekitar dua tahun lalu. Itu dilakukannya setelah tak kunjung mendapat pekerjaan setelah menjadi sarjana.

“Saya memulai usaha ini karena bosan melamar kerja setelah menjadi sarjana. Kalau tidak ditolak ya tidak cocok dengan persyaratannya. Bahkan pernah disuruh buka kerudung jadi saya tidak mau,” tuturnya kepada Seputarkudus.com belum lama ini.

Meski dirinya belum pernah membuat aksesoris wanita sebelumnya, tapi menurutnya hasil buatannya laris dibeli pelanggan. Karena banyak peminat, kemudian dirinya melanjutkan usahanya hingga sekarang.

aksesoris hijab

Saat awal membuka usaha, ujar Novi, sangking banyaknya pesanan dia mengaku sering lembur hingga pukul 2.00 WIB. Novi mulai merasakan ketatnya persaingan pasar online sejak pertengahan 2015. Meski dia sudah memiliki pelanggan, dia sadar perlu berinovasi agar bisa menghadapi persaingan pasar yang semakin ketat. 

“Selain melalui online, saya juga ingin membuka toko untuk memasarkan produk secara langsung, agar pelanggan bisa langsung melihat ke toko,” tuturnya.

Novi merinci, produk aksesoris yang dibuat antara lain bros, jepit rambut, head pishand buket, tas pesta, tas macrame, dan dasi sekolah jika ada pesanan. Untuk harga aksesoris dia jual mulai harga Rp 2.500 hingga Rp 250 ribu. Sedangkan untuk dasi dijual mulai harga Rp 2500 hingga Rp 5 ribu. Dari hasil penjualan produknya, dia mengaku bisa mendapat keuntungan bersih hingga Rp 5 juta per bulan.

Meski saat ini dirinya dibantu empat karyawan. Dua orang karyawannya datang ke tempat usaha, dan dua lainnya mengerjakan aksesoris di rumahnya masing-masing.

Novi juga mengaku mengikuti komunitas penjual aksesoris daring. Di komunitas itu anggota hanya berkomunikasi melalui media sosial. Dengan mengikuti komunitas penjual aksesoris online dia merasa cukup terbantu. Selain bisa untuk rekan berdiskusi dan berbagi informasi, di komunitas itu juga bisa saling jual beli produk dan bahan untuk membuat aksesoris. 

“Selain ikut komunitas penjual aksesoris, saya juga bekerja sama dengan perajin di Loram (Kudus) dan Jepara. Jadi kalau saya kewalahan saat mendapat pesanan, saya minta tolong perajin yang sudah saya kenal untuk membuatnya, dan begitu juga sebaliknya,” tutur Novi.