Mamik Goreskan Kopi di Atas Kanvas Saat Perayaan Hari Kopi Sedunia di Kudus

Diposting pada

SEPUTARKUDUS.COM, PANJUNAN – Seorang pria berambut panjang berkaus merah sedang melukis di atas kanvas putih, di Jalan Dr Ramelan, Panjunan, Kota, Kudus, Minggu (2/8/2016) pagi. Pria tersebut yakni Mamik S Mulyono, seorang seniman lukis yang sangat dikenal di Kota Kretek. Dirinya melukis di lokasi Car Free Day untuk memperingati Hari Kopi Sedunia.

Mamik Mulyono Pelukis Kudus
Mamik S Mulyono melukis pada peringatan Hari Kopi Sedunia, di Kudus. Foto-foto: Ahmad Rosyidi

Perlahan, Mamik mulai menggoreskan kuas di atas kanvas. Pada momen spesial kali ini, dirinya menggunakan cat berbahan serbuk kopi yang dicampur cat dan resin. Tak berapa lama, sosok perempuan berbalut kain batik muncul di atas kanvas.

Usai melukis, Mamik sudi berbagi kepada Seputarkudus.com tentang makna lukisan perempuan yang sedang memegang secangkir kopi. “Saya memilih objek perempuan, karena ibu sebagai simbol bumi, bumi Kudus yang memiliki kekayaan alam dengan beragam kopi yang harus dijaga agar lebih bernilai,” ungkap seniman dari Desa Dersalam, Bae, Kudus itu.

Dia mengaku seorang penggemar kopi. Dia sangat dekat dengan komunitas pecinta kopi dan pelaku usaha kopi di Kudus. Dalam peringatan Hari Kopi Sedunia kali ini, dia ikut menyemarakkan melalui kemampuan yang dimilikinya. “Saya pecinta kopi. Karena saya bisa melukis, saya berpartisipasi melalui lukisan,” katanya.

Mamik mengaku hampir setiap hari melukis. Dia mengatakan sejak kecil suka melukis. Baginya, melukis sudah menjadi kebutuhan sehari-hari. Menyadari dirinya diberi anugerah kemampuan melukis, membuat Mamik memutuskan mendalami tentang seni rupa, setelah lulus SMA dia melanjutkan pendidikan di Institut Seni Indonesia (ISI), Jogja.

“Hobi saya melukis memang sejak saya masih kecil. Karena saya merasa diberi anugerah bisa melukis, jadi saya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke ISI Jogja. Dan sampai saat ini menjadi profesi saya. Melukis sudah seperti kebutuhan bagi saya, jadi hampir setiap hari saya melukis,” tuturnya.

Tahun ini dia sudah empat kali mengikuti pameran, dua kali di Kudus dan dua kali di Jogja. Ke depan Mamik ingin fokus berkarya di Jogja, karena dia menginginkan lingkungan yang luas lebih banyak ruang berekspresi. 

“Karena saya juga bekerja sebagai fashion designer dan guru melukis di SMP Masehi Kudus, mungkin dekat-dekat ini saya lebih sering mondar-mandir ke Jogja untuk urusan seni,” jelas Pria dua anak itu.

Hazmi Amudy (25), Panitia Kudus Semarak Kopi mengungkapkan, ini merupakan kali kedua digelar acara memperingati Hari Kopi Sedunia. Ke depan akan diagendakan komunitas pecinta kopi di kudus Kudus sebagai even tahunan. Dia merasa puas karena banyak pengunjung yang antusias dengan acaranya, bahkan melebihi dari apa yang ditargetkan.

“Rencana nanti setiap tahun kami akan memperingati hari kopi Sedunia sebagai kegiatan tahunan. Di sini ada dua komunitas pecinta kopi, ada Kudus Coffee Enthusiastic (KCE) dan LOBI KOPI. Ada sekitar 22 pemilik coffee shop dan barista yang ikut berpatisipasi di acara ini,” ungkap pemilik kedai kopi Big Tree itu.