Nenek Asal Padurenan Ini Rela Antre Berjam-Jam untuk Mendapatkan Nasi Jangkrik Demi Anak dan Sawahnya

Diposting pada
SEPUTARKUDUS.COM, MENARA – Ratusan perempuan terlihat mengantre di depan Menara Kudus. Dengan bantuan Polisi wanita (Polwan) mereka berjalan masuk ke dalam kawasan Menara Kudus. Mereka rela mengantre berjam-jam untuk mendapatkan nasi jangkrik pada Buka
Luwur Kanjeng Sunan Kudus, Selasa (11/10/2016).

antre nasi jangkrik buka luwur sunan kudus
Sejumlah perempuan mengantre untuk mendapatkan nasi jangkrik. Foto: Imam Arwindra

Mereka berjalan pelan-pelan menyusuri jalur antrean menuju tempat pembagian nasi jangkrik. Satu di antara yang ikut mengantre, Munjaenah (70). Nenek asal Desa Padurenan,
Kecamatan Gebog, Kudus, ini mengaku berjam-jam ikut mengantre demi mendapatkan nasi jangkrik. “Tahun lalu juga ikut mengantre,” ungkapnya kepada seputarkudus.com.
Usai mendapat nasi jangkrik, dia mengaku akan memberikan nasi tersebut kepada empat anaknya di
rumah. Selain itu, nasi tersebut juga akan ditaburkan di sawah miliknya. “Ya semoga
mendapatkan berkah dari Kanjeng Sunan Kudus,” ungkapnya yang terlihat membawa
empat bungkus nasi jangkrik yang ditaruh di tasnya.
Munjaenah mengaku datang bersama anak laki-lakinya. Menurutnya,
sejak subuh dia sudah datang di Menara Kudus. Selain untuk dimakan,
dia memiliki kepercayaan saat nasi jangkrik ditaburkan
di sawah, hasil padi yang yang dihasilkan akan banyak dan berkah. “Sudah
kebiasaan, saat mendapatkan nasi jangkrik ditaburkan di sawah. Ya supaya
hasilnya banyak dan berkah,” jelasnya.

Humas Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK)
Deni Nur Hakim saat ditemui di ruangannya menuturkan, nasi jangkrik tidak hanya diberikan menggunakan jalur antrean. Nasi juga diberikan melalui jalur sedekah dan berkat salinan. Nasi sedekah dan berkat salinan sudah dilakukan mulai pukul 02.00 WIB, hingga menjelang subuh.
Deni menjelaskan, penerima jalur sedekah, yakni mereka yang memberikan sedekah untuk kebutuhan kegiatan Buka Luwur
Kanjeng Sunan Kudus. Mereka telah mendapatkan kartu yang digunakan
untuk mengambil keranjang yang berisi nasi jangkrik. Sedangkan berkat salinan,
yakni masyarakat membawa nasi dari rumah setelah itu ditukarkan dengan nasi jangkrik. 

“Namun ketika kami sudah menginformasikan tentang hal tersebut masih
banyak yang ingin mengantre. Karena mungkin mendapatkankan (Nasi
Jangkrik) dengan hasil perjuangan ada kepuasan tersendiri,” ungkapnya.

Dia menambahkan, pihaknya membedakan jalur laki-laki dan perempuan pada jalur antrean. Selanjutnya,
pihaknya juga sudah menempatkan tenaga keamanan di beberapa titik.