Siswi SD NU Nawakartika Ini Tetap Senyum Membungkus Nasi Jangkrik, Meski Malam Telah Larut

Diposting pada
SEPUTARKUDUS.COM, MENARA – Suasana keramaian terlihat di
tempat memasak milik Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK), Senin (10/10/2016), pukul 22.30 malam. Puluhan orang tampak mempersiapkan nasi jangkrik
yang akan dibagi kepada masyarakat dalam tradisi Buka Luwur Kanjeng Sunan
Kudus. 

membungkus nasi jangkrik buka lurur
Nasa (kanan) membungkus nasi jangkrik bersama ibunya. Foto: Imam Arwindra

Beberapa laki-laki memakai rompi hitam terlihat mondar-mandir memondong
keranjang berisi Nasi Jangkrik. Di sebelah barat, sejumlah perempuan sedang
membungkus nasi beserta daging menggunakan daun jati yang diikat dengan tali. Nampak hanya para perempuan dewasa
yang ikut membungkus Nasi Jangkrik tersebut. 

Sementara itu, di sebelah tenda medis terlihat perempuan
kecil mengenakan kerudung putih sedang ikut membungkus nasi. Dia nampak cekatan
dalam membungkus nasi bersama perempuan dewasa lainnya.

Dia bernama Voleta Jauzaa Nasa (10) bersama ibunya dia
mengikuti kegiatan tahunan tersebut. Walau waktu telah larut, dia mengaku tidak
mengantuk dan masih ingin ikut membantu membungkus nasi jangkrik. “Tidak
ngantuk,” tuturnya saat kepada Seputarkudus.com ditengah aktivitasnya.

Nasa, sapaan akrab Voleta Jauzaa Nasa, mengaku baru pertama kali ikut ibunya membungkus nasi jangkrik. Dia yang masih kelas lima SD NU Nawa Kartika, merasa senang bisa
ikut membantu menyukseskan pelaksanaan Buka Luwur Kanjeng Sunan Kudus. “Semoga dapat
berkah (dari Sunan Kudus),” tambahnya sambil berdiri.
Nasrochah (43) ibunda Nasa, mengungkapkan, dia
sengaja mengajak anak keduanya itu karena ingin mengenalkan kebudayaan
di Kudus. Dengan terjun langsung, dia dapat mengajarkan anaknya untuk
belajar tentang tradisi yang selama ini masih terjaga. “Sejak dini memang saya sengaja mengenalkan.
Supaya kelak dia (Nasa) dapat meneruskan tradisi ini,” jelasnya yang tinggal di
Desa Kauman, Kecamatan Kota, Kudus.
Menurutnya, sebelum Nasa, anak pertamanya juga pernah dia
ikutkan dalam pembungkusan nasi jangkrik. Dia mengungkapkan, sangat penting
memperkenalkan kebudayaan daerah sejak dini, karena suatu saat generasi mereka
yang akan meneruskan tradisi. 

“Anak saya ada tiga. Yang petama sudah kuliah di
Yogjakarta, ini nomor dua (Nasa) dan yang terakhir di rumah bersama ayahnya. Saya
juga sering mengajak mereka (anak) untuk ziarah,” tambahnya.

Deni Nur Hakim

Deni Nur Hakim Humas YM3SK menuturkan, pihaknya selektif dalam menentukan perewang melalui fotokopi kartu tanda penduduk
(KTP). Jika ada anak kecil yang ikut membantu dalam pembungkusan nasi,
menurutnya diajak oleh orang tuanya.
Dia mengakui, hal tersebut bagus untuk mengenalkan tradisi Buka Luwur Sunan Kudus kepada anak. Mereka dapat dikenalkan secara dini tentang
tradisi dan kebudayaan yang sudah berlangsung di Kudus. “Jumlah perewang ada
1.061 orang ditambah panitia 100 lebih,” tuturnya.
Menurutnya, untuk perewang yang membungkus nasi ada 130 orang yang dibagi dua shift. Shift pertama yakni pukul 06.00 WIB hingga pukul 23.00 WIB. Selanjutnya pukul 23.00 WIB hingga menjelang Subuh. “Yang membungkus nasi semuanya dilakukan perempuan,” jelasnya.
Deni menambahkan, pihaknya menyiapkan
68 ribu daun jati yang didapat dari Kudus dan luar Kabupaten Kudus. Selain itu
pihaknya juga menyiapkan 32 ribu tali yang dipesan khusus dari Yogjakarta.
“Tahun kemarin bungkusan nasinya (Nasi Jangkrik) ada 27 ribu. Tahun ini mungkin
30 ribu lebih,” tuturnya.