Anak Penjual Cobek di Makam Sunan Muria Ini Bangga, Meski Memiliki Keterbatasan, Ayahnya Tak Pernah Menyerah

Diposting pada

SEPUTARKUDUS.COM, COLO – Puluhan cobek tertumpuk di tepi tangga Makam Sunan Muria, depan ruko berisi pakaian. Di dekat cobek itu, terlihat seorang pria mengenakan baju batik dan berpeci, berjalan menggunakan tangannya. Dia adalah Aji Kusumo (57), penjual pakaian sekaligus cobek di lokasi wisata religi tersebut. Penyandang disabilitas itu selalu dibantu putrinya saat berjualan.

Aji Kusumo, penjual pakaian dan cobek di Makam Sunan Muria. Foto: Ahmad Rosyidi

Aji, begitu dia akrab disapa, sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com. Dia mengatakan, Sudah sekitar dua tahun ini dia berjualan pakaian dan cobek. Meski banyak kesulitan Aji merasa bersyukur karena ada tiga putrinya yang sering membantu. Setiap ada pembeli yang datang dia dibantu putri-putrinya yang juga berjualan di dekat rukonya. 

“Saya memang sudah tidak bisa berjalan sejak lahir. Jadi ya seperti ini. Saya berjualan juga butuh bantuan untuk mengambil pakaian jika ada pembeli yang ingin memilih. Saya bersyukur ada tiga putri saya yang selalu membantu,” tutur warga Colo, Dawe Kudus itu.
Aji juga merinci barang-barang yang dijual beserta harganya. Cobek dia jual seharga Rp 8 ribu hingga Rp 35 ribu. Sedangkan slayer batik dijual Rp 15 ribu, jeriken Rp 10 ribu, dan pakaian dijual mulai harga Rp 10 ribu hingga Rp 75 ribu. 

Dia membuka rukanya setiap hari mulai pukul 8.00 WIB hingga pukul 19.00 WIB. Aji mengaku saat sepi pembeli dirinya memilih untuk tidur, dan dibangunkan putrinya jika ada pembeli yang datang.

penujual pakaian dan cobek di makam sunan muria

Barang-barang yang dijualnya sebagian dia beli dari sales, ada yang membayar langsung da ada yang nitip uang dulu. Cobek misalnya, dia membeli dari sales dari Cirebon. Sedangkan pakaian dia ambil dari Pasar Kliwon dan Pekalongan. Aji juga mengungkapkan, dagangannya sering sepi, meski begitu dia tetap bersyukur sudah cukup untuk membeli makan.

Saat menjelaskan produk yang dijualnya, datang seorang perempuan yang duduk di samping Aji. Dia adalah Evi (27) satu di antara tiga putrinya. Evi mengaku bangga dengan ayahnya. Meski memiliki kekurangan tetapi tidak pernah menyerah dan bisa menjadi ayah yang baik untuk putri-putrinya.

“Saya bangga dengan ayah saya. Meski memiliki kekurangan, tetapi beliau tidak pernah menyerah. Masih semangat untuk menjalani aktivitas, dan menjadi ayah yang baik untuk putri-putrinya,” ungkap perempuan dua anak itu.