Demi Anak Cucu Nanti, Jamin Tak Pikirkan Soal Upah Mengurus Museum Situs Patiayam

Diposting pada
SEPUTARKUDUS.COM, TERBAN – Seorang laki-laki berpakaian batik tampak tersenyum melihat aktivitas sejumlah orang di Museum Situs Purbakala Patiayam, Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus. Pria tersebut adalah Jamin (43), petugas museum yang sering memberikan penjelaskan kepada pengunjung tentang koleksi fosil purbakala. Dia merupakan satu dari sembilan orang yang masih bertahan mengelola situs tersebut.

museum situs purbakala patiayam kudus
Jamin menjelaskan fosil koleksi Situs Purbakala Patiayam. Foto: Imam Arwindra

Kepada Seputarkudus.com dia menjelaskan, Museum Situs Purbakala Patiayam dikelola Paguyuban
Pelestari Situs Patiayam yang anggotanya hampir keseluruhan warga Desa Terban. Namun
tahun demi tahun menurun hingga tinggal Sembilan orang. Dikatakan, penyebab
menurunnya anggota paguyuban karena tidak adanya gaji untuk para pengurus
museum. 

“Kami bertahan karena fosil ini demi anak cucu kita nanti. Rezeki sudah ada yang mengatur,” tuturnya saat ditemui di Museum Situs Purbakala Patiayam, belum lama ini.

Dia mengungkapkan, jika fosil-fosil purbakala yang ada di museum tidak terurus maka generasi selanjutnya tidak akan pernah tahu bahwa pernah ada
mahluk purbakala yang pernah hidup di Pegunungan Patiayam. Menurutnya, fosil-fosil
yang sudah ditemukan dan yang masih berada di Pegunungan Patiayam merupakan warisan
leluhur yang seharusnya dijaga. 

“Kami sedikit-sedikit ada pendapatan dari
museum. Namun kami tidak terlalu memikirkan itu. Karena Allah sudah
mengaturnya. Yang penting warisan leluhur dijaga,” jelas dia yang masih berdiri
di dekat replika gajah purbakala berjenis Stegodon trigonochepalus.

situs purbakala patiayam

Dia mengungkapkan, Museum Patiayam
aktif dikelola tahun 2010. Menurutnya, pencarian fosil tersebut sudah dilakukan
tahun 1857 oleh Frans Wilhelm Junghuhn dan Raden Saleh. Selanjutnya tahun 1893
oleh De Winter dan 1931 oleh Van Es yang berhasil menemukan Sembilan jenis sisa
vertebrata di Pegunungan Patiayam. Pada 1978 Sartono
menemukan 17 spesies vertevrata dan sisa manusia berupa gigi pra geraham dan
pecahan tengkorak.  
Tahun 1981 sampai 1983
ada peniliti bernama Trauman Simanjutak yang mengamati permukaan tanan di
sepanjang sungai Balong dan Ampo. “Tahun 2005 sampai sekarang dengan Balai
Arkeologi Yogjakarta dan Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran,”
terang ayah dua anak tersebut.
Dikatakan, Museum Situs Patiayam menyimpan lebih 5.000 lebih
fragmen dari spesies hewan darat, laut dan air tawar. Menurutnya, fosil-fosil
tersebut tersimpan di museum dan di rumah warga Desa Terban. Menurutnya, lokasi
museum yang ada, sudah tidak mampu lagi menampung fosil-fosil. 

“Di Pegunungan Patiayam
dipastikan masih banyak fosil-fosil yang terkubur. Kebanyakan fosil tersebut
ditemukan warga secara tidak sengaja,” tutunya yang asli warga Desa Terban,
Kecamatan Jekulo.

Laki-laki kelahiran 2 Mei 1975 menuturkan, pertama kali
fosil yang ditemukan yakni gading gajah Stegodon Trigonochepalus dengan panjang
2,7 meter. Dia menceritakan, dulu warga menganggapnya hanya balong buto saja. setelah diteliti ternyata gading gajah
purbakala.
Di dalam museum terdapat
beberapa fosil yang dimasukkan kedalam kaca dan diletakkan di luar. Setipa fosil diberi nama, di antaranya Stegodon trigonochepalus (gajah purba), Elephas (sejenis gajah),
Rhinocecos sondaicus (badak), Bos banteng (sejenis banteng), Crocodilus
(buaya), Ceruus zwaani dan Cervus atau Ydekkeri martim (sejenis rusa), Corvidae
(rusa), Chelonidae (kura-kura), Suidae (babi hutan), Tridacna (kerang laut),
dan Hipopotamidae (kuda nil).