Mohdirono Sarbo, Pemilik Rumah yang Dulu Digunakan Sebagai Markas Pasukan Macan Putih

Diposting pada
SEPUTARKUDUS.COM, GLAGAH KULON – Sejumlah mobil angkutan warna kuning dan motor terlihat terparkir di sisi jalan depan tembok warna hijau, Desa Glagah Kulon, Kecamatan Dawe, Kudus. Di dalamnya terdapat tugu berbentuk gunung dengan tinggi sekitar 245 sentimeter. Pada tugu terdapat relief kepala harimau, pedang dan bambu runcing yang menyilang serta tulisan Markas Komando Daerah Muria.

monumen komando macan putih muria
Edy Supratno (kaos orange) sedang menceritakan sejarah Pasukan Macan Putih Muria di depan Monumen Komando Macan Putih. Foto-foto: Imam Arwindra

Menurut sejarahwan Kudus Edy Supratno, bangunan tersebut dulu rumah Mohdirono Sarbo yang digunakan untuk Markas Komado Milter Daerah Muria. Saat itu pasukan Belanda berhasil menduduki pusat pemerintahan Kabupaten Kudus. “Daerah Muria meliputi (Kabupaten) Kudus, Pati dan Jepara,” ungkapnya saat ditemui pada kegiatan Melacak Jejak Pertempuran Muria yang diadakan oleh Jaringan Edukasi Napak Tilas Kabupaten Kudus (Jenank) dan Omah Dengeng Marwah, Minggu (13/11/2016).
Di depan puluhan anggota Omah Dongeng Marwah dan peserta kegiatan, dia menceritakan, setelah pasukan Belanda mulai menduduki pusat pemerintahan, pasukan yang dijuluki Macan Putih melakukan gerilya dan tinggal di rumah-rumah warga. Menurut Edy, pasukan pimpinan Mayor Kusmanto tinggal di rumah warga Glagah Kulon yang bernama Mohdirono Sarbo. 

Rumah tersebut, menurutnya juga sebagai tempat merencanakan penyerangan pasukan Belanda. “Untuk kebutuhan makanan mereka (pasukan) disediakan oleh warga sekitar yang mayoritas menjadi petani. Hal tersebut juga tergambar pada relief di Monumen Komando Macan Putih,” ungkapnya sambil menunjuk kearah gambar dua orang petani yang memberikan bungkusan kepada beberapa tentara.

monumen komando macan putih muria

Dikatakan Edy, monumen tersebut dibuat sekitar tahun 1970 dan hingga sekarang belum direnovasi. Dari pantaun Seputarkudus.com, pagar tembok yang mengelilingi monumen sudah mulai rusak dan catnya mengelupas. Di bagian tugu juga terlihat retakan-retakan pada sisi samping dan belakang. Di sisi belakang tugu ada ruangan yang dihuni semut dan laba-laba yang menurut Edy, dulu digunakan untuk menaruh arsip. “Arsipnya sudah diambil Kodim,” tambahnya.

Menurut Edy, Mohdirono Sarbo pemilik rumah sekaligus pewakaf tanah untuk monumen sampai sekarang belum mendapatkan apresiasi dari pemerintah Kabupaten Kudus. Dia berharap, pemerintah Kabupaten Kudus dapat mengapreasiasinya dan menjaga bangunan monumen agar selalu terawat. “Mari kita mendoakan Mohdirono Sarbo dan semangat menghargai jasa para pahlawan,” tuturnya mengajak para peserta untuk berdoa.

komandan pasukan muria ali mahmudi
Peserta sedang mengunjungi makam Kapten Ali Mahmudi di Desa Plukaran, Kecamatan Gembong, Pati.

Dalam kegiatan Melacak Jejak Pertempuran Muria, kordinator Jenank Danar Ulil mengungkapnya, dirinya bersama anggota lain mengajak anak muda di Kudus untuk peduli dengan tempat-tempat bersejarah di Kudus. Menurutnya, dengan berkunjung ke tempat-tempat bersejarah akan menambah pengetahuan sejarah yang ada di Kudus. “Ini juga sekaligus sebagai cara menjaga tempat-tempat bersejarah di Kudus,” ungkapnya setelah kegiatan selesai.

Jenank dan omah dongeng marwah
Peserta kegiatan Melacak Jejeak Pertempuran Muria.

Dia menjelaskan, sebelum ke Monumen Komando Macan Putih, dirinya bersama murid Omah Dongeng Marwah juga sempat mengunjungi makam Kapten Ali Mahmudi yang berada di Desa Plukaran, Kecamatan Gembong, Pati. Selain itu juga menonton film Macan Putih Muria yang dibuat murid Omah Dongeng Marwah di SDN 01 Plukaran. “Filmnya tadi bercerita tentang pasukan Macan Putih Muria. Menurut cerita di film, sebelum Pasukan Macan Putih dipimpin oleh Mayor Kusmanto, pasukan tersebut di pimpin oleh Kapten Ali Mahmudi,” jelasnya.