Yogi: Harga Bensin Pertamini Sama dengan Bensin Eceran, yang Membedakan Alatnya Lebih Keren

Diposting pada

SEPUTARKUDUS.COM, GONDOSARI – Di tepi Jalan PR Sukun Raya, tepatnya di utara kantor Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Gebog, terlihat bangunan ruko yang di depannya terdapat Pertamini digital. Seorang pria mengenakan peci warna hitam bersarung, terlihat melayani pembeli bensin menggunakan alat mirip di SPBU. Pria tersebut yakni Febri Yogi Ananto (15), santri pondok pesantren Apida PIP asal Magelang yang setiap hari membantu berjualan bensin.

Yogi melayani pembeli bensin di Jalan Sukun Raya, Gondosari, Gebog, Kudus. Foto: Sutopo Ahmad

Sembari melayani pembeli, Yogi begitu akrab disapa, sudi berbagi penjelasan kepada Seputarkudus.com tentang usaha yang sedang dia jaga bersama temannya. Dia menjelaskan, Pertamini Maya Mulya Jaya merupakan milik guru pondoknya. Usaha itu berdiri sekitar satu bulan yang lalu, tepatnya pada bulan Oktober 2016.

Dia mengatakan, harga dua alat Pertamini digital di tempat dia berjualan seharga Rp 25 juta. Bahan bakar untuk kendaraan yang dia jual hanya dua jenis, berupa Pertalite dan Pertamax. Harga Pertalite dijual Rp 7.500 dan Pertamax Rp 8.200 per liter. “Harga sama dengan bensin eceran yang ada di pinggir jalan. Yang membedakan cuma alatnya saja yang lebih keren,” ujarnya.

Usaha tersebut, katanya, milik kiai tempat dirinya mondok. Dia hanya bertugas untuk menjaga bersama temannya. Biasanya setiap hari dia diberi upah Rp 10 ribu. “Saya mau berjualan bukan karena upahnya, yang saya cari hanya ridho dari kiai,” ungkap Yogi waktu dijumpai di Desa Gondosari, Kecamatan Gebog, Kudus sekaligus tempat dia berjualan.

Selain berjualan di Kudus, pemilik usaha juga memiliki satu cabang yang bertempat tidak jauh dari Pasar Daren.  Menurutnya, dia berjualan bensin setiap hari mulai pukul 5.00 WIB hingga pukul 14.00 WIB.  Setelah itu, dia harus pulang ke pondok untuk mengaji, karena sudah ada yang menggantikan dia untuk berjualan.

“Biasanya sampai Pukul 14.00 WIB, soalnya saya harus pulang ke pondok untuk mengaji.  Untuk pendapatan, sehari rata-rata mendapatkan hasil Rp 2 juta, tapi kalau sedang ramai pembeli bisa mencapai Rp 4 juta per hari, dengan penjualan tidak kurang dari 300 liter per hari,” tambahnya. 

Anak pertama dari beberapa saudara ini mengatakan, tepat pondok dia mengaji berlokasi di Desa Daren, Kecamatan Nalumsari, Jepara. Sudah sekitar empat bulan dia menjadi santri di Apida PIP, tepatnya sejak awal Agustus. Dia mengaku mengetahui pondok tersebut dari pamannya yang sudah terlebih dahulu menjadi santri.