Demi Keluarga, Jek Tak Malu Setiap Hari Berjalan Kaki dengan Dandanan Wayang Orang Menjadi Pengamen

Diposting pada

SEPUTARKUDUS.COM, PURWOSARI – Di atas trotoar Jalan H M Subchan ZE, tampak seorang pria sedang duduk di samping pengeras suara, sambil menghitung uang receh. Dia mengenakan pakaian tradisional Jawa, warna biru lengkap dengan belangkon di kepala. Setelah menghitung, pria renta itu melangkahkan kedua kakinya menuju satu per satu pemukiman rumah warga. Pria tersebut yakni Suhadi (74), seorang pria setiap hari menjadi pengamen wayang orang.

Suhadi beristirahat di trotoar Jalan HM Subchan ZE setelah berkeliling untuk mengamen dengan dandanan wayang orang. Foto: Sutopo Ahmad

Di sela aktivitas mengamen, Jek begitu dirinya akrab disapa, sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com terkait pekerjaannya tersebut. Dia menceritakan, menjadi pengamen wayang orang sudah berlangsung sekitar 24 tahun, tepatnya sejak 1992. Menurutnya, pekerjaan itu dilakukan semata-mata untuk menafkahi keluarga sekaligus melestarikan budaya agar dikenal oleh masyarakat.

“Sebelum jadi pengamen, dulu saya sempat menjual bakso dan menjual nasi goreng di Menara (Menara Kudus). Berhubung waktu itu ada relokasi, saya beralih pekerjaan menjadi pengamen wayang orang. Setiap hari berpakaian seperti ini, saya tidak pernah malu, mengapa harus malu. Saya tidak mencuri, tidak menyakiti hati orang lain, apa yang saya kerjakan semata-mata hanya ingin melestarikan budaya,” ungkap Jek waktu ditemui di Kelurahan Purwosari, Kecamatan Kota, Kudus.

Pria yang tercatat sebagai warga Dukuh Ngelo, Desa Karangrowo RT 6 RW 6, Kecamatan Undaan, Kudus, ini menjelaskan, dia tidak pernah memberikan tarif berapapun kepada warga setiap kali berlenggak lenggok menjadi pengamen wayang orang. Dia mengaku tetap bersyukur meski terkadang ada warga yang tidak memberikan uang ketika sedang mengamen. “Dikasih ya diterima, tidak tidak apa-apa, tetap bersyukur saja,” ujarnya.

Menurut pria yang sudah dikaruniai empat orang anak dan sebelas cucu ini, dia menjadi pengamen setiap hari mulai pukul 10.00 WIB hingga pukul 15.00 WIB. Seharian mengamen, hasil yang didapatkan tidak bisa dipastikan, berkisar antara Rp 40 ribu hingga Rp 70 ribu. “Tidak pasti, kadang Rp 60 ribu, Rp 70 ribu, kadang juga Rp 40 ribu per hari,” ungkapnya.

Dia menambahkan, tempat dia mengamen tidak hanya di Kudus, terkadang di wilayah Demak, Pati serta Jepara. Selain menjadi pengamen, dia juga tercatat sebagai anggota yang bernama Singa Jaya di desa tempat dia tinggal. Pertunjukkan yang ditampilkan meliputi kesenian barongan dan reog.

“Meski sudah tua, saya masih aktif sebagai anggota kesenian barongan dan reog. Terkadang saya beserta anggota yang lain juga disuruh tampil didalam sebuah acara. Untuk tarif tergantung lokasi yang ditempuh, barongan setengah hari Rp 2,5 juta, Rp 3 juta kalau seharian tampil. Sedangkan kesenian reog, Rp 3,5 juta tampil setengah hari, Rp 4 Juta untuk seharian,” tambahnya.