Stasiun (1), Bangunan Pasar Wergu, Saksi Bisu Kemajuan Moda Transportasi di Kudus Kala Itu

Diposting pada
SEPUTARKUDUS.COM, WERGU WETAN – Kerlap-kerlip lampu kuning  di pertigaan depan Stasiun Wergu Kudus, Kelurahan Wergu Wetan, Kecamatan Kota,
Kudus. Letak stasiun yang kini menjadi pasar tepat berada di pertigaan, pertemuan Jalan
Johar dan Jalan Letkol Tit Sudono. Bangunan yang memilik
luas 20 x 60 meter dibangun tanggal 15 Maret 1884 pada masa penjajahan Belanda.

stasiun wergu kudus
Sejumlah kendaraan melintas di depan Stasiun Wergu Kudus, yang kini menjadi pasar. Foto: Imam Arwindra

Menurut sejarahwan Kudus Edy Supratno, stasiun tersebut yang menjadi pasar sejak tahun 1993. Dulu Stasiun Wergu Kudus menjadi simbol kemajuan Kabupaten Kudus dan sekitarnya sejak akhir abad ke-19. Selain itu sebagai penanda majunya peradaban dalam moda transportasi. 

Edy
mengungkapkan, kehadiran kereta api di Kudus melalui perusahaan Semarang Joana Stomtram Maatschappij
(SJS) membuat Kudus lebih maju. “Terutama masyarakat Kudus yang sebagian
besar pedagang. Tentu keberadaan stasiun dan kereta mempunyai makna penting,”
ungkap Edy saat memaparkan materi pada kegiatan Seminar Konservasi Kesejarahan
yang digelar mahasiswa Jurusan Sejarah Universitas Negeri Semarang (Unnes) di
SMA 1 Mejobo Kudus, Sabtu (17/12/2016).

sejarawan kudus edy supratno
Sejarawan Kudus, Edy Supratno (paling kanan). Foto: Imam Arwindra

Diceritakan, sebelum ada kereta api, menurutnya
transportasi yang digunakan masyarakat yakni kereta sapi atau kerbau untuk
mengakut komoditas beras, kapuk, kayu bakar dan hasil bumi lainnya. Sampai-sampai
Menteri Jean Pemerintah Belanda Chretien Baud pada tahun 1840 memesan khusus 40 ekor unta
dan 200 ekor keledai dari Afrika. 

“Saat itu juga ada peraturan melarang masyarakat menyembelih kerbau. Selain kereta bertenaga hewan, juga ada transportasi yang
menggunakan jalur sungai,” tambahnya.

Tahun demi tahun berjalan, para pengusaha terutama pemilik
pabrik gula mengeluh karena merugi pada musim hujan. Banyak jalan rusak, membuat kereta lembu atau kerbau sering terjebak lumpur. Mereka
harus berhari-hari, bahkan berpekan-pekan untuk menuju pelabuhan Semarang guna
mengirim hasil bumi yang akan dibawa ke Belanda. “Akibat persoalan tersebut perusahaan merugi,” jelasnya.

Kondisi Stasiun Wergu Kudus saat ini yang dimanfaatkan menjadi pasar. 

Menyadari kebijakan Beud yang belum membuahkan hasil, Kopiist, majalah pertama yang terbit di
Hindia-Belanda memberikan sebuah solusi modern. Edy menjelaskan, dalam artikel
majalah Kopiist nomor 11 tahun 1842
tertulis sudah saatnya di Hindia-Belanda dibangun jalur kereta api. Menurut Kopiist  tahun tersebut belum ada
satupun negara di Asia yang memiliki jalur kereta api seperti yang ada di
Eropa.
Gagasan tersebut, kata Edy, didukung kondisi tanah di Hindia-Belanda
datar sehingga memudahkan pembuatan rel kereta api. Melalui sebuah dekrit, Raja Willem I
memerintahkan untuk membangun jalur kereta di Hindia-Belanda. Pertama
kali diusulkan jalur kereta dari Kedu ke Semarang. 

“Pemerintah Hindia-Belanda
sangat berkepentingan karena hasil bumi dari wilayah Temanggung, Wonosobo,
Magelang, Bagelen dan sekitarnya sangat melimpah. Hasil-hasil bumi tersebut
akan diangkut pelabuhan untuk dibawa ke Nederland,” tuturnya.

Setelah 20 tahun mengalami kendala, akhirnya tahun 1962 pemerintah Hindia-Belanda
menjalankan pembangunan proyek kereta api pertama. Namun pembangunan tersebut
dilakukan oleh perusahaan swasta bernama Nederlandsch Indische
Spoorweg-maatschappij (NIS). Jalur yang dibangun yakni Semarang-Surakarta-Yogjakarta. Perusahaan
NIS memulai proyek tersebut dimulai tanggal 17 Juni 1864 dan baru selesai 21
Mei 1873. Setelah NIS berhasil membangun jalur penting tersebut, barulah
perusahaan negara SS mengerjakan rel kereta api jalur Surabaya-Malang pada
1875.

Komoditas
Hasil Bumi
Menurut data dari peneliti bernama Endang yang disampaikan Edy
Supartno, selama masa 1884 hingga 1889, gula merupakan komoditas tertinggi yang
diangkut menggunakan kereta api. Jumlahnya melampaui beras, kapuk dan hasil
bumi lainnya. Disebutkan, tahun 1884 SJS mengangkut gula dari wilayah Kudus
mencapai 1.443 ton. Tahun berikutnya 2.458 ton dan tahun 1886 mengalami
kenaikan 2.577 ton. 

“Tiga tahun berikutnya, gula yang diangkut juga dari pabrik
gula Mayong Jepara, jumlahnya mencapai 3.174 ton, 3.097 ton dan 2.638 ton. Di
Kudus ada tiga pabrik gula yakni Rendeng, pabrik gula yang ada di
Tanjungmojo, Jekulo dan Besito yang masuk distrik Cendono. Bersama pabrik gula
ini, Belanda juga mempunyai perkebunan kopi di Dawe,” terangnya.

Edy mengungkapkan, selain gula kereta api juga mengangkut batu bara dan kayu jati dari Blora untuk pabrik gula di Kudus. Selain itu juga diangkut keramik dari Mayong dan minyak dari Cepu. Jalur kereta api yang dibuat tidak sampai Gresik, Jawa
Timur, karena perusahaan SJS mempertimbangkan
jalur tersebut tidak prospektif. Sementara itu pemerintah Belanda menginginkan Jawa Tengah dan Jawa Timur terhubung “Tetap SJS tetap menolak,” tambahnya.

Kepada Seputarkudus.com dia menuturkan, kereta api tidak hanya membawa hasil bumi, melainkan juga digunakan untuk transportasi umum. Dari data yang Edy miliki, penumpang dibagi menjadi
dua kelas, yakni kelas satu dan dua. Tahun 1884 kelas satu 3.807 orang dan
kelas dua 209.789. Begitu juga setahun kemudian jumlah meningkat menjadi 6.886 orang untuk kelas
satu dan 349.446 orang untuk kelas dua. 

“Jumlahnya meningkat tajam pada tahun 1889. Penumpang
kelas satu sebanyak 11.850 dan kelas dua 451.157 orang. Kelas dua memang
penumpangnya lebih banyak karena untuk menengah ke bawah,” tuturnya.