Giharto, Warga Peganjaran Pencipta Regulator TV yang Pernah Berjaya di Tahun 2000

Diposting pada

SEPUTARKUDUS.COM, PEGANJARAN – Di dalam sebuah ruangan yang banyak kardus, terlihat tiga orang perempuan sedang sibuk dengan komponen di tangan mereka. Tampak mereka sedang menempelkan benda berwarna kuning pada komponen tersebut. Di sudut lain terlihat seorang perempuan sedang menggulung tembaga pada sebuah besi. Ruangan tersebut merupakan tempat pembuatan regulator televisi, yang keberadanya pernah sangat dikenal, dan mengantarkan pemiliknya hidup berkecukupan.

Produsen regulator televisi
Produsen regulator televisi. Foto: Rabu Sipan

Giharto (49), pemilik usaha pembuatan regulator itu mengatakan, regulator ciptaanya tersebut pernah berjaya antara tahun 2000 sampai 2010. Menurutnya, saking larisnya, permintaan regulator ciptaanya tersebut mencapai 4 ribu pcs sebulan, dengan harga jual Rp 22,500 per pcs. Dan hal tersebut terjadi selama 10 tahun, hingga mampu menaikan ekonomi keluarganya.

“Aku tidak menyangka regulator televisi yang aku ciptakan diminati banyak orang. Tidak hanya di Kudus, melainkan juga seluruh Karesidenan Pati, bahkan sampai Semarang, Surabaya dan merambah sampai Jakarat. Dengan larisnya regulator tersebut pada rentang sepuluh tahun aku mampu beli mobil, naik haji bersama istri, serta beli tanah dan bangun rumah bertingkat,” ujar Giharto yang mengaku rumah yang dia tempati sekarang merupakan hasil dari regulator televisi.

Pria warga Dukuh Brender RT 2, RW 3, Desa Peganjaran, Kecamatan Bae itu mengungkapkan, dirinya menciptakan regulator televisi tersebut pada tahun 1999. Sebelumnya, Giharto bekerja sebagai tukang servis televisi dan sering membeli regulator. Karena alasan tersebut, lalu menciptakan regulator sendiri.

Dia mengungkapkan, pada waktu itu sangat mudah mendapatkan adaptor sebagai bahan baku regulator. Karena banyak perusahaan elektronik di Kudus yang bangkrut akibat krisis moneter dan stok komponenya dilelang dengan harga yang murah. Karena bahan baku yang murah, tersebut dia mengaku mampu meraup untung lebih banyak.

Pada saat berjaya, dia mengaku mempekerjakan sekitar 10 orang untuk produksi regulator televisi. Dia menuturkan, hal tersebut berbanding terbalik dengan sekarang, dimana regulator sudah sepi peminat seiring hadirnya televisi LED. Menurutnya televisi tabung kelemahan akutnya pada regulator penghantar listrik, berbeda dengan televisi berbentuk yang regulatornya dibuat bagus dan awet.

Menurut Giharto, pelanggannya yang masih membutuhkan regulator televisi buatanya hingga saat ini merupakan orang yang fanatik dan sudah mengetahui kualitas produk buatannya. Dan untuk memenuhi permintaan para pelangganya tersebut, Giharto mengaku hanya mempekerjakan empat orang. Dibanding saat berjaya, jumlah produksinya saat ini menurun 70 persen.

“Meski sekarang sudah lewat masa kejayaan regulator televisi tabung, namun aku tetap bersyukur usaha pembuatan regulatorku masih bertahan hingga sekarang,” ungkapnya.