Keinginan Tarmudzi Jadi Pelukis Andal Tak Terbendung, Dia Nekat ke Jogja Cari Guru untuk Belajar

Diposting pada

SEPUTARKUDUS.COM, PURWOREJO – Di tepi barat Jalan Kudus -Colo, Desa Purworejo, Kecamatan Bae, Kudus, tampak bangunan dengan pintu terbuka berwarna putih. Di dalamnya terlihat puluhan lukisan berbagai macam obyek terpajang di dinding. Di balik meja kaca yang berada di ruangan tersebut terlihat seorang pria berambut gondrong sedang duduk mengamati berbagai lukisan. Dia bernama Turmudzi (42), seninam lukis yang pernah kesulitan mencari guru lukis di Kudus.

Tarmudzi Seniman Lukis Kudus
Tarmudzi Seniman Lukis Kudus. Foto: Rabu Sipan

Dengan duduk santai, Turmudzi sudi berbagi kisahnya kepada Seputarkudus.com tentang kehidupannya sebagai seniman lukis di Kudus. Dia mengaku mulai menyukai seni lukis sejak masih Taman – Taman Kanak (TK). Namun setelah lulus sekolah menengah atas (SMA), dia bingung mencari guru lukis di Kudus yang bersedia mengajari teknik tentang melukis.

Baca jugaTarmudzi, Seniman Lukis yang Rela Jadi Tukang Cukur untuk Penuhi Kebutuhan Hidup Keluarganya

“Karena saat itu aku belum kenal para pelukis senior di Kudus. Setelah lulus SMA aku memutuskan belajar ukir di Jepara sebagai pelampiasan. Dua tahun mencari pelampiasan di Jepara, keinginanku untuk mendalami lukisan muncul dan aku nekat pergi ke Jogjakarta untuk mencari orang yang mau mengajari melukis,” ujarnya.

Dia yakin di Jogja pasti menemukan orang yang mau mengajarinya, karena di Kota Gudeg banyak seniman lukis. Setelah beberapa hari di Jogja, Tarmudzi mengaku menemukan orang yang mau menagajarinya. Dia belajar selama sebulan dan mengeluarkan biaya Rp 125 ribu.

Pria yang baru dikaruniai satu anak itu mengatakan, setelah belajar selama sebulan dia memutuskan pulang ke Kudus. Dengan bekal pengetahuan yang dia dapat dari Jogja dia mulai melukis, dan lambat laun mulai kenal beberapa pelukis senior Kudus. Sejumlah seniman yang dia kenal di antaranya, Bambang Dayoko, Mamik Mulyono, Karno dan sejumlah seniman lukis senior lainnya.

“Setelah kenal pelukis senior di Kudus, aku rajin bertamu ke rumah mereka, dan tentunya sambil membawa lukisanku untuk minta masukan dan saran. Dan alhamdulilllah beliau selalu mau memberi saran dan masukan agar lukisan hasil karyaku bisa lebih bagus lagi,” ungkapnya.

Setelah beberapa kali berkunjung, baru pada 2006, dia mengaku mulai percaya diri memajang hasil karya lukisanya di depan rumah. Kebetulan rumahnya tersebut berada ditepi jalan. Sejak saat itu dia juga sudah mulai menerima order berbagai macam lukisan, di antaranya melukis foto.

Selain menerima pesanan lukisan foto, dia juga melukis obyek lain, di antaranya manusia, binatang, dan lainya. Dia menuturkan, hasil karya lukisannya dia jual paling mahal Rp 2 juta. “Itu yang paling mahal ya, ada juga hasil karyaku yang aku hargai Rp 1,5 juta, Rp 1 juta juga ada kok,” ungkapnya.

Turmudzi mengungkapkan, hasil karyanya tersebut selain dibeli orang Kudus, juga pernah dibeli orang untuk dikirim ke Riau, Kalimantan, serta Surabaya. Dia menuturkan, setelah mampu menjual lukisannya dan sudah menghasilkan puluhan lukisan, dia mulai sadar bahwa melukis tidak hanya sekadar teknik.

“Melukis itu bukan sekadar tentang teknik, melainkan tentang olah rasa. Semakin olah rasanya kuat, lukisan yang dihasilkan bisa semakin kuat penyampaian rasa dan menyentuh hati mereka yang melihatnya. Tapi teknik tetap penting, karena tekniklah pendukung penyampaian rasa pada lukisan tersebut,” jelas Turmudzi.