Khoiruddin Pusing, Saat Panen Tiba Harga Ketela Justru Anjlok

Diposting pada

SEPUTARKUDUS.COM, CENDANA – Beberapa perempuan terlihat menggendong ketela yang diwadahi dalam karung. Ketela tersebut kemudian dimasukkan ke dalam truk yang sudah terparkir di tepi jalan, di depan MTs NU Miftahul Falah Cendana, Dawe, Kudus. Sementara itu, sekitar 100 meter ke dalam kebun ketela, beberapa laki-laki terlihat sibuk mengambil ketela yang tersimpan dalam tanah.

Petani ketela di Desa Cendono
Petani ketela di Desa Cendono. Foto: Imam Arwindra

Menurut penebas ketela Ahmad Khoiruddin (18), ketela yang sudah dipanen nantinya akan dikirim ke Ngempak, Kabupaten Pati. Namun dia menyayangkan, harga ketela yang nanti dijual menurun yakni Rp 800 per kilogram. Dia mengaku gelisah dengan harga ketela yang jatuh tersebut. Hal tersebut disebabkan karena hujan yang berkepanjangan dan harga tepung ketela yang menurun.

“Harga ketela jatuh. Semoga tidak terlalu lama,” ungkapnya saat ditemui saat panen ketela, beberapa hari lalu.

Dia menjelaskan, jatuhnya harga ketela mulai terjadi pada pertengahan tahun 2016. Menurutnya, sebelum itu harga di atas Rp 800. Sempat juga pada akhir tahun 2016, ketela yang digunakan untuk bahan baku tepung anjlok Rp 650 per kilogram. Namun pada awal tahun 2017 kembali lagi Rp 800 per kilogram. Dengan kondisi tersebut, mau tidak mau dirinya harus bertahan.

“Ya harus bertahan di kondisi apapun, karena dalam bisnis ini banyak yang terlibat,” ungkap dia yang tinggal di Desa Kandangmas, Kecamatan Dawe, Kudus.

Dalam sekali panen dirinya membawa 10 sampai 13 orang dari Desa Kandangmas. Menurutnya, mereka sudah lama ikut dengannya menjadi buruh panen ketela. Setiap orangnya diberi upah Rp 65 ribu perharinya. Dikatakan, dalam sekali panen dirinya juga menyewa truk Rp 550 ribu per hari. “Untuk hari ini hanya 10 orang yang ikut. Mereka juga dapat jatah makan,” tambahnya.

Khoiruddin sapaan akrabnya, melanjutkan, setiap kebun ketela dengan luas satu kotak dibelinya dengan harga Rp 1.200.000. Untuk satu hektarenya Rp 20 juta. Namun dia juga mempertimbangkan isi ketela yang akan ditebas. Dirinya mengaku sudah mempunyai pembeli tetap di Ngempak.

“Kadang pernah isinya busuk. Karena hujan lebat, memanennya telat akhirnya busuk. Kalau ketela sudah busuk ya dibuang,” terang dia yang sudah berbisnis jual beli ketela selama dua tahun.