Panen di Desa Berugenjang Sudah Gunakan Mesin, Operatornya Didatangkan Langsung dari Lampung

Diposting pada

SEPUTAR KUDUS.COM, BERUGENJANG – Laki-laki berkaus ungu terlihat serius mengemudikan mesin pemanen padi di area persawahan Desa Berugenjang, Kecamatan Undaan, Kudus. Dia mengenakan helm dan tangannya mengoperasikan kemudi mesin combine harvester tersebut. Laki-laki itu bernama Perli, pemuda asal Lampung yang mengaku didatangkan khusus untuk memanen padi lengkap berserta mesin yang dikemudikannya.

Mesin Pemanen Padi di Desa Berugenjang - Kudus
Pekerja memanen padi di Desa Berugenjang. Foto: Imam Arwindra

Perli mengungkapkan, dirinya sebelum panen musim tanam satu (MT 1) di Kudus sudah dikontrak para penebas untuk memanen padi, utamanya di daerah Desa Berugenjang. Menurutnya, mesin pemanen padi merk Yanmar AW70V, diklaim dapat memanen lahan padi satu hektare hanya dengan waktu sekitar 90 menit. “Untuk mengemudikan alat ini butuh mental tangguh” ungkapnya saat ditemui Seputarkudus.com saat dirinya istirahat, Selasa (31/1/2017).

Menurutnya, untuk mengemudikan mesin pemanen padi dirinya perlu belajar intensif satu pekan. Terlebih, saat memanen pada tanah yang tidak rata, seperti di tanah Desa Berugenjang. Kalau tidak berhati-hati dan fokus, katanya hasilnya akan fatal.

Perli melanjutkan, selain bisa lebih cepat, padi yang dihasilkan lebih bersih dan tidak tersisa. Menurutnya, dari Lampung dirinya membawa tiga mesin pemanen padi berukuran besar. Dia menjelaskan, setiap satu alat combine harvester dapat dijalankan dua orang. Satu sebagai pengemudi dan satu orang lagi sebagai helper. Tugas helper di antaranya mewadahi buliran padi yang keluar dari mesin. “Namun jika sendirian saya juga bisa,” ungkapnya.

Untuk bahan bakarnya, Perli menyebutkan menggunakan solar. Menurutnya, mesin perontok padi yang dikemudikannya tergolong irit. Satu hektare sawah membutuhkan 12 liter solar. Untuk isi keseluruhan tangki kurang lebih 100 liter. Dirinya mengaku sudah berada di Desa Berugenjang selama sepekan. Dan kemungkinan akan selesai hingga satu bulan kedepan.

Saat ditanya, berapa harga sewa alat perontok padi tersebut, dia mengaku tidak tahu detail karena yang tahu antara penebas dan bos pemilik alat. Menurutnya, dia hanya dibayar Rp 200 ribu per hektare.

Suyoto, petani dan sekaligus penebas padi di Desa Berugenjang menuturkan, oprasional menggunakan mesin pemanen padi itu yakni Rp 2.200.000 per hektare. Menurutnya, oprasional tersebut jauh lebih murah ketimbang menggunakan jasa pengedos. Dia mengatakan, memanen secara manual setiap hektare membutuhkan biaya hingga Rp 3 juta. “Ini harga gabah turun Rp 3.200 per kilogram. Jadi bisa memangkas biaya operasional,” jelasnya.