Pengusaha Tempe di Ploso Buka Rahasia Agar Tempe Terasa Enak dan Sedap

Diposting pada

SEPUTARKUDUS.COM, PLOSO – Di samping rumah milik warga di Desa Ploso, Kecamatan Jati, Kudus, terlihat seorang pria berkaus biru. Dia terlihat memasukan kedelai ke dalam plasik panjang. Di ruangan lain terlihat seorang pria memasukan kedelai ke dalam cetakan kayu berbentuk persegi panjang yang dilapisi daun jati. Tak lama berselang, datang seorang pria memakai kaus berlengan pendek mengecek ratusan tempe yang berada di rak bambu. Tempat tersebut merupakan tempat pembuatan tempe yang mampu menghabiskan 1,9 kwintal kedelai sehari.

Nasruchin
Nasruchin. Foto: Rabu Sipan

Nasruchin, (43) adalah pemilik usaha pembuatan tempe tersebut. Dia mengatakan, produk tempe yang sudah dia rintis sejak tahun 1992 itu diakui memiliki banyak peminat di Kudus. Bahkan menurutnya pelanggannya sudah merambah hingga ke Demak. Kepada Seputarkudus.com, dia sudi membagi rahasianya agar tempe yang dia produksi diminati banyak pelanggan. Dia mengatakan, proses produksi harus memperhatikan kualitas bahan serta proses pembuatannya.

“Untuk menghasilkan tempe yang berkualitas, aku menggunakan kedelai murni. Proses pembuatan juga harus benar-benar mngikuti aturan yang telah aku tentukan. Di antaranya  meliputi lama proses fermentasi, perebusan serta pencucian kedelai harus benar0benar sesuai anjuranku,” ujar Nasruchin kepada Seputarkudus.com, beberapa hari lalu.

Pria yang menjadikan rumahnya sekaligus tempat usaha itu mengatakan, tempe yang dia produksi murni menggunakan bahan tempe dan ragi tanpa dia campuri bahan lainya. Dia mengaku memilih kedelai impor, karena kedelai tersebut saat menjadi tempe bisa lebih mengembang daripada tempe yang dibuat dengan menggunakan kedelai lokal.

“Sebenarnya membuat tempe menggunakan kedelai lokal hasilnya lebih bagus, karena kedelai lokal bisa menghsilkan sari lebih banyak. Namun karena saat jadi tempe tidak bisa mengembang. Menurutku, dengan menghasilkan sari yang lebih banyak, kedelai lokal lebih cocok untuk dibuat produksi tahu daripada tempe,” ujarnya.

Baca juga: Warga Ploso Ini Kembangkan Usaha Produksi Tempe dari Nol, Kini Punya Dua Kios di Bitingan

Dia lalu membeberkan rahasia membuat tempe sedap atau gurih hasil produksinya. Dia menuturkan, untuk membuat tempe sedap saat perebusan harus menggunaakan kayu. Karena jika dirembus menggunakan api kompor, tempe yang dihasilkan akan terasa hambar. Setelah direbus hingga setengah matang, kedelai tersebut ditiriskan, lalu direndam menggunakan air bersih baru selama sehari semalam.

Setelah direndam, katanya, kedelai digiling menggunakan alat khusus agar pecah. Lalu kedelai tersebut dicuci menggunakan air bersih sebanyak dua kali bilas. Kemudian dicuci lagi dan direndam menggunakan air bercampur ragi selama satu jam. Menurutnya perendaman tersebut harus satu jam, jika kurang rasa tempe yang dihasilkan bisa asam. Begitu juga dengan perbandingan kedelai dengan ragi harus pas yakni setiap 10 kilogram kedelai diberi ragi sebanyak satu sendok makan

“Itu untuk musim kemarau, saat musim penghujan, misalnya seperti saat ini porsi ragi ditambah dua kali lipatnya. Karena dimusim penghujan pertumbuhan jamur lebih lambat,” Jelas pria yang sudah dikaruniai dua anak itu.

Nasruchin melanjutkan, setelah selesai direndam, kedelai ditiriskan kembali lalu dicetak sesuai ukuran. Pembungkus tempe menurutnya juga mempengaruhi rasa. Tempe dicetak menggunakan bungkus daun jati rasa yang dihasilkan lebih sedap daripada tempe yang dicetak menggunakan plastik. Namun tempe yang dicetak menggunakan plastik hasilnya lebih gurih.

“Soal rasa biar konsumen yang memilih. Sebagai pembuat sudah aku sediakan dua tempe dengan dua pilihan. Dan Alhamdulillah dua-duanya laris di pasaran. Sejak tahun 2000 sampai sekarang aku mampu menjual tempe dari 1,9 kwintal kedelai setiap hari. Bahkan saat harga kedelai naik tinggi aku masih bisa meraup untung dan tempeku juga laris dan habis setiap hari,” ujar Nasruchin.