Tekun Membuat Kerajinan Bambu Sejak SD, Moyong Berhasil Tuntaskan Pendidikan 4 Anaknya Hingga Universitas

Diposting pada

SEPUTARKUDUS.COM, JEPANG WETAN – Di tepi selatan Jalan Suryo Kusumo Desa Jepang Wetan, Kecamatan Mejobo, Kudus, tampak bangunan beratap seng yang dipenuhi kerajinan bambu. Di di dalamnya terlihat dua orang sedang membelah potongan batang bambu. Satu di antara pria tersebut bernama Zaenuri (62), pembuat kerajinan bambu sejak dirinya masih duduk di sekolah dasar (SD).

Kerajinan bambu di Desa Jepang Wetan milik Moyong
Kerajinan bambu di Desa Jepang Wetan milik Moyong. Foto: Rabu Sipan

Di sela aktivitasnya membuat kerajinan bambu, pria yang biasa disapa Moyong tersebut, sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com. Dia mengatakan, mulai menekuni membuat kerajinan bambu sejak kelas empat SD, tepatnya saat dia berumur 10 tahun. Pada waktu itu, seusai pulang sekolah, Moyong selalu membantu ayahnya membuat kerajinan.

“Setelah aku mahir membuat kerajinan bambu, aku bersama ayahku mulai mendapatkan order dalam jumlah banyak. Bahkan pada tahun 1997, aku dan ayahku  kebanjiran order. Saat itu setiap pekan kami membuat ratusan aneka kerajinan bambu,” ujar Moyong sambil menata bilah bambu untuk bahan kerajinan.

Pria yang sudah dikaruniai empat anak itu mengatakan, kerajinan bambu yang dia buat pada waktu itu ada empat jenis. Kerajinan tersebut di antaranya ebek atau tepek yang biasa digunakan untuk mencemur kerupuk mentah, tambir, keranjang untuk berjualan kerupuk, serta sarangan bambu. Menurutnya, pada waktu itu pesanan tidak hanya datang dari Kudus, tapi juga dari Semarang, Demak, Pati, Jepara, bahkan pernah ngirim ke Madiun.

Saking ramainya order, kata Moyong, pada tahun 1997 hingga 2004, dia bisa mengirim barang kerajinan dari bambu setiap tiga hari sekali. Setiap pengiriman dia membawa 100 tepek dan sejumlah kerajinan bambu lainnya. Dengan jumlah pengiriman itu, dia mengaku usaha yang dikelola bersama ayahnya tersebut mampu meraup omzet sekitar Rp 10 juta sebulan.

Karena kebutuhan pengiriman kerajinan, dia membeli mobil bak terbuka. “Mobil tersebut aku gunakan untuk operasional dan pengiriman hasil kerajinan bambu kepada para pelanggan. Pada saat itu meskipun mobil operasional, akulah orang pertama di Desa Jepang yang memiliki kendaraan roda empat,” ungkapnya.

Selain mampu membeli mobil, kata Moyong, pada kurun waktu tersebut dia juga mempunyai modal untuk ternak sapi. Diungkapkan, sapi yang diternak dari modal hasil kerajinan bambu tersebut sebanyak 20 ekor sapi.

“Aku bersyukur dan berterima kasih kepada ayahku yang mengajariku membuat kerajinan dari bambu. Dengan bambu aku dulu pernah merasakan hidup berkecukupan, punya mobil, motor, serta menyekolahkan semua anaku hingga perguruan tinggi,” ujar Moyong.