Video: Pembuatan Kerupuk di Desa Purwosari Ini Dilakukan Secara Tradisional untuk Menjaga Cita Rasa

Diposting pada

SEPUTAR KUDUS.COM, PURWOSARI – Beberapa orang terlihat menyusun cetakan kerupuk basah di atas anyaman bambu. Setelah tersusun rapi sebagian orang dengan sigap mengangkati anyaman bambu tersebut untuk dijemur di pelataran. Di ruangan lain, terlihat seorang pria memakai kaus warna hitam berbicara dengan satu orang karyawan, sambil mengecek hasil kerecek yang sudah kering tersebut. Pria tersebut bernama Asep Zarkasi (37), generasi ketiga penerus usaha pembuatan kerupuk, yang tetap mempertahankan pembuatan kerupuk secara tradisional.

Pembuatan kerupuk di Purwosari
Pembuatan kerupuk di Purwosari. Foto: Rabu Sipan

Di sela aktivitasnya mengecek hasil kerja para karyawanya, pria yang akrab disapa Aang itu sudi berbagi kisah tentang usahanya kepada Seputarkudus.com. Dia mengatakan, untuk mempertahankan cita rasa dan gurihnya kerupuk yang dia produksi, dia tetap mempertahankan pembuatan kerupuk secara tradisional, meski sudah punya mesin pembuatan kerupuk. Menurutnya, produksi secara tradisional tersebut hasilnya lebih diminati dari pada kerupuk yang dibuat secara modern atau menggunakan mesin.

“Kerupuk yang dibuat secara tradisional rasanya lebih enak dan lebih diminati para pembeli. Karena alasan tersebut pembuatan kerupuk secara tradisional tetap aku pertahankan, meskipun biaya operasionalnya lebih besar dari pada membuat kerupuk dengan menggunakan mesin,” ujarnya.

Warga Kelurahan Purwosari, Kecamatan Kota, Kudus, itu mengatakan, untuk memenuhi permintaan kerupuk seluruh pelanggan, dia juga memproduksi sebagian kerupuknya menggunakan mesin. Karena setiap hari permintaan kerupuk mencapai puluhan ribu. Jika pembuatan kerupuk dilakukan secara tradisional, dirinya tidak akan bisa memenuhi permintaan kerupuk para pelangganya.

“Pembuatan kerupuk secara tradisional itu selain lebih lama juga memerlukan tenaga pencetak kerupuk lebih banyak dan tentu yang sudah mahir. Berbeda dengan mesin yang mampu mencetak kerupuk puluhan ribu dalam sehari. Bahkan, kalau aku ingin bisa saja aku membuat kerupuk hanya menggunakan mesin saja, jika aku tak mempertahankan pembuatan kerupuk secara tradisional,” ujarnya.

Meski biaya pembuatan kerupuk secara tradisional lebih mahal, Asep megaku menjual kerupuknya dengan harga sama semua yakni Rp 300 per biji untuk pelanggan, dan Rp 400 per biji selain pelanggan. Yang membedakan hanya imbuhan per 100 kerupuk. Untuk kerupuk dibuat tradisional setiap pembelian 100 kerupuk dapat tambahan 30 kerupuk, sedangkan kerupuk dibuat mesin dengan jumlah yang sama, hanya dia tambahi 20 kerupuk.

Sejak usaha pembuatan kerupuk tersebut, Aang mengatakan, selain menjual kerupuk juga menjual kerecek. Hal tersebut dia lakukan untuk memenuhi permintaan pedagang pasar. Menurutnya, para pedagang pasar itu meminta berupa kerecek untuk memenuhi pembelian dari luar Kudus.

Aang menuturkan, permintaan kerecek produksinya lumayan bagus. Permintaan mencapai lima kwintal dalam sepekan, dengan harga Rp 12 ribu per kilogram. Untuk memproduksi kerecek dan kerupuk secara tradisional dan mesin, dia mempekerjakan sekitar 12 orang yang terbagi menjadi dua kelompok, pekerja harian dan borongan.

“Aku bersyukur usaha kerupuk yang didirikan kakeku bertahan sampai sekarang. Dan aku berharap dengan mempertahankan pembuatan kerupuk secara tradisional, kerupuk dan kerecek produksiku makin diminati para pembeli,” harapnya.