21 Tahun Fakum Berteater, Hedi Kembali Menggarap Naskah Hasil Pikiran Liarnya

Diposting pada

SEPUTARKUDUS.COM, REJOSARI – Ratusan orang tampak duduk di depan panggung utama pentas Teater Whanidproject di Balai Budaya Rejosadi, Dawe, Kudus, Sabtu (25/3/2017) malam. Tak jauh dari panggung pementasan yang membawakan naskah “Semangkuk Sup Makan Siang Atau Cultuurstelsel” itu, terlihat pria bekaus hitam dan berkaca mata. Dia tak lain Hedi Santoso, pembuat naskah yang dipentaskan.

Hedi Santoso, Teater Whanidproject
Hedi Santoso, Teater Whanidproject. Foto Ahmad Rosyidi

Kepada Seputarkudus.com, Hedi begitu dia akrab disapa, sudi berbagi cerita tentang naskah yang dibuatnya tersebut. Ide naskah tersebut muncul saat dirinya memasak. Saat itulah dirinya bermain dengan pikirannya, sehingga terciptalah naskah tersebut.

Baca juga: Ada ‘Antasari Azhar’ Dalam Pentas Semangkuk Sup Makan Siang Atau Cultuurstelsel di Rejosari

“Naskah itu hasil pikiran liar saya saat memasak. Kebetulan saya hobi memasak, jadi setiap memasak saya berpikir sendiri kemudian saya bantah sendiri. Saya sudah fakum selama 21 tahun sebenarnya, sejak tahun 1994 hingga akhir tahun 2015. Meski tidak berteater selama 21 tahun, tapi saya masih berkomunikasi dengan teman-teman teater,” terang pria yang berteater sejak tahun 1977 itu.

Naskah tersebut, kata Hedi, adalah cerita aktivitas selama enam jam, yang ditunjukan dengan bunyi lonceng enam kali saat memulai pementasan. Bunyi lonceng itu menunjukan waktu pukul 6.00, dan ditutup dengan bunyi lonceng 12 kali yang menunjukan waktu pukul 12.00. Selama aktvfitas enam jam tersebut, naskah itu menceritakan tentang sejarah tanam paksa dan membahas persoalan masyarakat yang tidak mengenali jatidiri bangsanya sendiri, karena sibuk mengikuti tren masa kini.

Whani Darmawan (50), satu di antara tiga aktor yang mementaskan naskah garapan Hedi, mengungkapkan, dirinya butuh proses latihan kurang lebih sekitar satu tahun. Dia juga mengaku butuh menghafal naskah dengan baik, karena ketika salah ucap akan salah makna. Naskah tersebut mereka pentaskan di empat kota. Di antaranya, Jakarta, Jogja, Kudus, dan Surabaya pada tanggal 27 Maret 2017.

“Untuk latihan kami butuh proses kurang lebih satu tahun. Karena kami butuh menghafal naskah dengan baik, kalau salah ucap bisa salah makna nanti,” jelas pria yang dikaruniai satu anak itu.

Asa Jatmiko (41), satu di antara panitia penyelenggara pementasan tersebut, mangaku sangat perlu mendatangkan Whanidproject dengan naskah “Semangkuk Sup Makan Siang Atau Cultuurstelsel”, karena memiliki warna lain. Menurutnya, perlu untuk dibawa ke Kudus agar teater di Kudus bisa mendapat refrensi dan ilmu baru.

“Dramaturgi yang baik itu dihitung waktunya secara baik, rapi dan rinci. Sedangkan pementasan yang baik ya sesuai karya sutradaranya. Saya berharap pementasan kali ini bisa memberi inspirasi, dan Kudus akan lebih kaya karya kreatif,” ungkap pria yang berteater sejak tahun 1993 itu.