Ada ‘Antasari Azhar’ Dalam Pentas Semangkuk Sup Makan Siang Atau Cultuurstelsel di Rejosari

Diposting pada

SEPUTARKUDUS.COM, REJOSARI – Sejumlah properti pewayangan tampak di belakang dua orang narasumber dan moderator diskusi, di Balai Budaya Rejosari, Dawe, Kudus, Sabtu (25/3/2017) malam. Diskusi yang dihelat usai pementasan Teater Whanidproject itu, diselenggarakan Teater Djarum didukung Djarum Foundation. Suara tawa peserta terdengar saat seorang pria di antara puluhan peserta menyebut narasumber yang berkumis dengan sebutan Antasari Azhar.

Pentas teater naskah Semangkuk Sup Makan Siang Atau Culturstelsel
Pentas teater naskah Semangkuk Sup Makan Siang Atau Culturstelsel. Foto: Ahmad Rosyidi

Pria bernama Ali Rohman (30) itu mengungkapkan, narasumber diskusi yang sekaligus pembuat naskah berjudul “Semangkuk Sup Makan Siang Atau Culturstelsel” itu memiliki wajah yang mirip dengan Antasari Azhar, mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Narasumber yang dimaksud bernama Hedi Santoso. “Wajah Pak Hedi memang mirip Antasari Azhar, kalau saya lihat dari samping tadi. Cuma beliau terlihat sedikit lebih tua sepertinya,” ungkapnya.

Ali Rege, begitu Ali Rohman akrab disapa, sangat mengapresiasi pementasan tersebut. Menurutnya, naskah yang dipentaskan sangat bagus untuk ditonton kalangan pemuda, karena memiliki pesan-pesan tentang semangat nasionalisme. Dia yang saat ini mengajar kelompok seni di Madrasah Taswiquth Thullab Salafiyyah (TBS) Kudus, ingin mengajak murid-muridnya berkesenian dengan muatan nilai-nilai nasionalisme.

Dalam acara yang dimoderatori anggota Teater Djarum Asa Jatmiko itu, Hedi mengatakan, naskah yang dia buat diilhami peristiwa tanam paksa pada masa penjajahan Belanda. Semangkuk sup makan siang dalam judul naskahnya, bisa dimaknai kemakmuran yang hanya dinikmati penjajah. Dengan pementasan itu dirinya ingin memberi pesan, agar masyarakat tidak lagi berwatak inlander. Masyarakat harus memahami jati diri bangsa.

Hedi menambahkan, naskah ini dipentaskan di empat kota, satu di antaranya di Kudus. Khusus untuk pementasan di Kudus, durasinya dipersingkat. Naskah yang seharusnya berdurasi kurang lebih dua jam itu, diperpendek menjadi sekitar satu jam.

“Kami mempersingkat durasi, karena pementasan di Kudus di luar ruangan, agar efektif. Meski begitu saya hanya pengulangan-pengulangan saja yang saya potong, jadi tidak mengurangi substansi dari naskah tersebut. Tetapi pementasannya menjadi linier tadi,” jelas pria asli Jogja tersebut.

Sejarawan Kudus Edy Supratno, yang hadir sebagai narasumber diskusi, mengaku heran dengan pementasan teater tersebut. Menurutnya, kalimat yang diucapkan para pemain persis dengan naskah. Dia juga sangat mengapresiasi pementasan dengan naskah yang memiliki muatan sejarah itu.

“Saya sangat mengapresiasi pementasan kali ini. Biasanya kita belajar sejarah di bangku sekolah, kali ini kita bisa belajar dengan menikmati pementasan. Jadi teater juga bisa menjadi media kita untuk belajar sejarah,” terangnya.

Dia juga merasa ironi dengan kondisi bangsa saat ini. Saat zaman kerajaan rakyat merasakan tanam paksa, karena hasil tanam diserahkan kepada kerajaan. Saat dijajah Belanda juga diperlakukan sama, rakyat mengalami tanam paksa hingga Belanda sanggup melunasi hutang-hutang negaranya.

“Sebenarnya Belanda tidak sesadis seperti yang sering kita dengar, yang sadis itu malah kaum elit dari bangsa kita sendiri. Dari zaman kerajaan hingga zaman penjajahan kita mengalami tanam paksa, dan kita tidak ada kemerdekaan untuk menikmati ‘sup’ dari hasil bumi kita,” tambahnya.