Demi Bisa Dirikan Usaha untuk Anak Cucu, Warga Garung Lor Ini Keluar dari Tempat Kerja

Diposting pada

SEPUTARKUDUS.COM, GARUNG LOR – Di tepi utara Jalan Kudus-Jepara Desa Garung Lor, Kecamatan Kaliwungu, Kudus, tampak berbagai macam oranmen hiasan taman yang terpampang memenuhi rumah warna merah jambu. Di satu ruangan rumah tersebut terlihat seorang pria paruh baya berkemeja panjang sedang mencetak satu hiasan taman. Pria tersebut bernama Busiri (56). Dia keluar dari tempatnya bekerja, demi bisa membuat usaha yang kelak bisa diwariskan kepada anaknya.

Busiri sedang membuat ornamen taman
Busiri sedang membuat ornamen taman. Foto: Rabu Sipan

Di sela aktivitasnya tersebut, Busiri sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com. Dia menceritakan, saat remaja dirinya bekerja selama delapan tahun di sebuah perusahaan pembuatan loster serta eternit. Namun sejak menikah dan punya anak satu, dia mengaku keluar kerja karena ingin punya usaha sendiri.

Baca juga: Kisah Berliku Busiri, Produsen Ornamen Taman yang Belajar Secara Ototdidak

“Dengan modal seadanya hasil tabungan selama bekerja, aku nekat membuka usaha pembuatan pagar klasik. Dengan harapan, memiliki usaha sendiri dan berkembang serta kelak bisa aku wariskan kepada anak dan cucuku,”ungkapnya sambil tersenyum.

Warga Garung Lor, Kaliwungu, Kudus itu mengungkapkan, dirinya memilih usaha pembuatan pagar klasik dari beton karena pada saat itu mulai ada orang, khususnya orang mampu secara ekonomi, membuat pagar dari beton. Menurutnya, hampir setiap pagar beton saat itu pasti menggunakan pagar klasik.

Dia mengatakan, saat itu hasil produksi pagar klasiknya lumayan diminati. Bahkan pada tahu 1992 pelanggannya tidak hanya datang dari Kudus, tapi juga Jepara, Pati dan Rembang. Menurutnya, para pelanggannya tersebut tidak hanya perorangan, tapi juga para pemilik toko bangunan.

“Saat itu setiap pekan aku bisa mengirim sekitar 600 pagar klasik kepada para pelangganku. dan untuk memenuhi permintaan para pelanggan, aku mempekerjakan sekitar empat orang yang aku upah dengan sisitem borongan,” ungkapnya.

Pria yang sudah dikaruniai lima anak dan satu cucu itu mengatakan, keuntungan dari pembuatan pagar kalsik terbilang lumayan. Karena pada saat itu belum terjadi krisis ekonomi dan bahan dasar untuk membuat pagar klasik masih murah. Menurutnya, hasil dari usaha tersebut bisa untuk membeli beberapa tanah dan bangun rumah.

Namun, kata Busiri, roda kehidupan memang selalu berputar. Pagar klasik yang mulanya diminati, pada tahun 2000 sepi peminat. Menurutnya pada awal tahun 2000 ada pergeseran bentuk pagar yang diminati banyak orang, dan membuat pagar klsik produksinya tak laku lagi.

“Setelah pagar klasik yang aku produksi tak laku lagi di pasaran, order pembuatan dan pengiriman pun sepi. Satu persatu para pekerjaku lalu pada keluar. Dan demi memegang prinsip agar tetap memiliki usaha, dan berharap bisa berkembang lalu bisa aku wariskan kepada anak cucuku, kini aku mulai usaha membuat kolam mini dan berbagai macam hiasan taman yang aku pajang di depan rumahku,” ujarnya.