Duku Sumber, Buah Khas Kudus yang Manis Tapi Super Manja

Diposting pada

SEPUTARKUDUS.COM, HADIPOLO – Daun-daun kering jatuh di bawah pohon duku yang tumbuh subur di pekarangan rumah warga Dukuh Sumber, Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo, Kudus. Dahannya tampak besar dan rimbun. Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Jaya Makmur, Solikin mengatakan, daun-daun itu dibiarkan begitu saja di bawah pohon, agar menjadi kompos secara alami yang bisa menjadi nutrisi bagi pohon duku Sumber.

Pohon duku, Sumber, Desa Hadipol, Kecamatan Jekulo, Kudus
Pohon duku, Sumber, Desa Hadipol, Kecamatan Jekulo, Kudus. Foto: Imam Arwindra

Duku Sumber, kata Solikin, merupakan buah khas dukuh setempat yang memiliki rasa manis namun sangat “manja”. Pohon duku Sumber tak bisa diberi nutrisi dari pupuk kimia dan harus menggunakan pupuk organik. Jika diberi pupuk kimia, pohonnya akan cepat mati.

“Pohon (Duku Sumber) memang super ‘manja’. Pupuk harus yang alami. Selain itu, jika terkena asap dari dapur rumah juga bisa mati.” ungkapnya saat ditemui di dekat pekarangan rumahnya Desa Hadipolo, beberapa waktu lalu.

Selain pupuk, katanya, kadar air yang berada di sekitar pohon harus seimbang, tidak terlalu banyak dan tidak terlalu sedikit. Menurutnya, itulah yang menjadi alasan mengapa pohon duku ditanam di pekarangan rumah. Jika pohon di tanam di perkebunan, sewaktu musim kadar air akan sulit dikendalikan. Saat musim kemarau, dirinya harus menyiram pohon tersebut menggunakan air dari sumur di rumahnya. “Jika pohonnya masih kecil, strateginya, di dekat pohon ditanami pisang,” tambahnya.

Dia melanjutkan, proses penanaman dimulai dari pembibitan pohon duku. Sebelum siap ditanam di tanah, bibit harus direndam air selama sepekan. Selanjutnya dibuatkan lubang dengan kedalaman 50 sentimeter persegi. bibit duku yang ditanam di dalam lubang itu harus diberi pupuk kompos. Selain itu, agar pohon yang masih kecil tidak rubuh, diberi tambahan tiang peyangga dari kayu atau bambu.

“Setiap dua bulan sekali harus diberikan pupuk supaya dapat meningkatkan kesuburan. Kalau sudah besar daun yang jatuh bisa menjadi pupuk organik,” jelasnya.

Solikin menambahkan, pohon duku akan mulai berbuah setelah 7-10 tahun. Menurutnya, setiap panen akan menghasilkan buah duku antara 50 kilogram hingga 1 kwintal. Setelah pohon berusia lebih dari 10 tahun, akan menghasilkan buah 4 kwintal lebih. Banyak atau sedikitnya buah, juga dipengarungi dahan pohon. Semakin banyak dahan, buah yang dihasilkan semakin banyak.

“Panen hanya bisa dilakukan satu tahun sekali saja. Sebenarnya bisa dua kali dalam setahun, tapi menggunakan pupuk kimia. Namun umurnya paling sebentar. Contoh, kemarin ada yang hanya bertahan tiga tahun saja. Kalau pakai pupuk organik bisa berpuluh-puluh tahun lamanya,” ungkapnya.

Pohon Duku Sumber yang berada di Desa Hadipolo, menurutnya semakin lama semakin berkurang. Selain karena kondisi pohon yang butuh perawatan rumit, lahan yang ada sudah berubah menjadi pemukiman. Menurutnya, di Desa Hadipolo ada 100 petani lebih yang menanam pohon duku di pekarangannya. Dirinya akan mengajak kalangan muda untuk membuat agrobisnis yang fokus pada buah duku.