Edy Supratno Yakin, Djamhari Penemu Rokok Kretek dari Kudus Bukan Mitos

Diposting pada

SEPUTARKUDUS.COM, GETAS PEJATEN – Alunan musik terdengar di panggung utama Wedangan Pukwe, di Jalan Mulya, Kudus, pukul 19.30 WIB. Ruang tersebut tampak penuh. Sejumlah orang duduk lesehan, sebagian yang lain duduk di kursi kayu. Iringan musik tersebut mengawali bedah buku Djamhari Penemu Kretek, karya sejarawan Kudus, Edy Supratno.

Edy Supratno, dalam bedah buku Djamhari 2017_3_24
Edy Supratno, dalam bedah buku Djamhari. Foto: Imam Arwindra

Akademisi Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kudus Moh Rosyid dan wartawan senior Kudus Prayitno, tampil di panggung menjadi pembedah buku berisi 254 halaman tersebut. Setelah itu, Edy menuju panggung utama. Malam itu dirinya mengenakan celana jeans dab kemeja putih.

Di depan peserta bedah buku yang hadir, dirinya mulai menceritakan lika-liku proses pembuatan buku Djamhari Penemu Kretek. Sejumlah peserta tampak serius memperhatikan pemaparan Edy. Sesekali mereka tertawa, saat mantan jurnalis tersebut menceritakan kelucuan-kelucuan dalam proses mencari data sosok penemu kretek. Dia juga mengungkapkan, membuat buku penemu kretek merupakan cita-citanya sejak dulu.

Dia menceritakan, saat sedang melakukan liputan di daerah Pegunungan Muria, dirinya tidak sengaja menemukan buku yang mengulas jenis burung di Indonesia. Namun sayang yang membuat buku tersebut orang Barat. Seketika itu dirinya ingat, di Kudus masih ada misteri yang belum terpecahkan.

“Sebagai orang yang tinggal dan menetap di Kudus, saya ingin mengungkap tokoh penemu kretek yang bernama Djamhari. Capek, tetapi akhirnya saya bahagia, cita-cita saya tercapai,” tuturnya di depan peserta bedah buku, Rabu (22/3/2017) malam.

Pria kelahiran Asahan, Sumatera Utara, ini meyakini, dirinya sudah berhasil mengungkap sosok Djamhari. Namun sebagai sebuah karya ilmiah tidak bisa lepas dari kritik. Setelah terbitnya buku Djamhari Penemu Kretek, ada perasaan yang masih membebani dirinya, antara salah dan benar.

“Jika (buku) ini salah, ribuan orang akan tersesat karena karya saya. Namun saya yakin karya yang sudah saya susun selama bertahun-tahun ini benar. Saya yakin benar, berdasarkan silsilah dan saksi hidup, kuburannya (Djamhari) juga masih ada,” tambah Edy yang hari ini berulang tahun.

Dalam buku yang diterbitkan Pustaka Ifada disebutkan, Djamhari dilahirkan sekitar 1870 di Desa Langgardalem, Kecamatan Kota, Kudus, buah perkawinan Mirkam alias Haji Somad dengan Yawijah atau Hj Aisyah. Djamhari menikah  pada usia sekitar 20 tahun, Mas’idjah. Dia membuat rokok kretek, untuk mengobati penyakit asma yang dideritanya. Lambat laut, rokok obat tersebut populer di kalangan masyarakat.

Pada 1912, Djamhari menjadi Komisaris Sarekat Islam Kudus wilayah Prawoto. Namun selang enam tahun, pecah kerusuhan anti-China di Kudus. Djamhari pindah ke Cirebon, selanjutnya ke Tasikmalaya menjadi pedagang pakaian (1918/1919). Selain berdagang pakaian, Djamhari juga mulai berdagang material bangunan, dan merintis sebagai anemer jalan raya (1919/1920). Djamhari ternyata pernah mengunjungi keluarganya di Kudus lagi tahun 1932.

Pada tahun 1950-an, Djamhari memutuskan kembali ke Tasikmalaya saat terjadi konflik DI/TII Kartosuwirjo dengan TNI. Tahun 1958, dirinya tercatat pernah mengutus Ahmad (Ponakan Djamhari) untuk suatu urusan ke Kudus. Dan tahun 1962 Djamhari meninggal di Tasikmalaya di atas tanah makam keluarga Abdul Somad.

Satu di antara peserta bedah buku yang hadir, yakni Danar Ulil, yang datang dari Jekulo. Dia mengaku baru yakin bahwa sosok penemu rokok kretek Djamhari, benar-benar ada, setelah diterbitkannya buku karya Edy Supratno. Sejauh ini dirinya masih bimbang, antara sosok Djamhari sebagai mitos, atau nyata adanya.

Fifty-fifty, antara nyata dan tidak. Karena memang sering mendengar (Djamhari) namun tidak pernah melihat sosoknya seperti apa,” tuturnya kepada Seputarkudus.com.

Menurutnya, selama ini belum adanya litelatur khusus yang membahas tentang Djamhari. Baru setelah buku tersebut diterbitkan, dirinya bisa tahu secara detail sosok Djamhari maupun silsilah keluarga. “Saya sangat kagum dengan karya ini. Senang sekali saya bisa ikut memiliki karya ini,” tambahnya yang aktif menjadi kordinator komunitas Jelajah Edukasi Napak Tilas Kabupaten Kudus (Jenank).