Harapan Karmijan Pupus, Harga Gula Merah Jatuh di Saat Banyak Pengusaha Tak Produksi

Diposting pada

SEPUTARKUDUS.COM, PUYOH – Tiga pria paruh baya tampak sibuk di tempat usaha pembuatan gula merah di Desa Puyoh, Kecataman Dawe, Kudus. Tampak mereka berbagi tugas, dua pria di penggilingan dan satu orang kebagian merebus air tebu hingga menjadi gula merah. Tak berselang lama datang seorang pria berkaus lengan pendek mengecek gula merah yang sudah jadi. Pria tersebut bernama Karmijan (70), pemilik usaha pembuatan gula tumbu.

Produksi gula tumbu Desa Puyoh, Kecamatan Bae, Kudus 2017_3
Produksi gula tumbu Desa Puyoh, Kecamatan Dawe, Kudus. Foto: Rabu Sipan

Di sela aktivitasnya mengecek gula merah hasil produksinya, Karmijan sudi berbagi penjelasan kepada Seputarkudus.com tentang harga gula merah saat ini. Dia mengungkapkan, harga gula saat musim hujan ini jatuh. Padahal beberapa pemilik usaha serupa memutuskan tidak produksi. Diakuinya, hal itu di luar prediksinya.

“Aku sebenarnya berharap saat beberapa pengusaha pembuat gula tak produksi, harusnya gula merah harganya bisa naik, minimal stabil. Namun ya itu, harapan tinggal harapan, harga merah malah turun dibanding saat kemarau,” ungkapnya sambil geleng kepala, beberapa hari lalu.

Warga Desa Puyoh, Kecamatan Dawe, Kudus, itu mengatakan, harga gula merah saat kemarau tahun lalu harganya Rp 900 ribu per kwintal. Sedangkan saat nini jatuh, seharga Rp 700 ribu per kwintal. Menurutnya, jatuhnya harga gula merah tersebut imbas dari melimpahnya produksi gula kelapa dari daerah Banyumas.

Meskipun harga jual gula kelapa lebih tinggi dari pada gula merah, menurutnya masyarakat atau para pemilik usaha yang menggunakan gula merah biasanya beralih menggunakan gula kelapa. Itu karena gula merah memiliki rasa lebih enak, kwalitasnya bagus, dan bentuknya juga rapi. “Bahkan produksi kecap ternama di Kudus tidak mau menggunakan gula merah,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, meskipun saat ini harga jual gula merah jatuh, dirinya memutuskan untuk tetap berproduksi. Karena saat dikalkulasi dirinya masih mendapat keuntungan meskipun menyusut. Itu tak lepas banyaknya stok ampas tebu kering saat kemarau, dan selalu menyempatkan menjemurnya saat cuaca tak lagi hujan.

“Enaknya ya itu limbah ampas tebu bisa untuk memasak sari tebu hingga menjadi gula merah. Jadi aku tidak perlu beli kayu bakar yang tentu akan menambah biaya produksi. Dan untuk bisa mendistribusikan gula merah produksiku, aku punya pelanggan yang menyuplai gula merah ke Jakarta. Percuma juga kan bisa produksi tapi tidak bisa menjual ditengah melimpahnya produksi gula kelapa,” tuturnya.

Karmijan mengatakan, mempekerjakan tiga orang untuk bagian produski yang diupah dengan sistem borongan, serta dua kuli harian untuk menjemur ampas tebu. Selain itu, dia juga mempekerjakan satu tim penebang tebu yang terdiri dari delapan orang.