Ima Tak Bisa Menahan Tawa Melihat Lawan Mainnya Saat Peringati Hari Pantomim Sedunia

Diposting pada

SEPUTARKUDUS.COM, WERGU WETAN – Cahaya matahari menembus sela-sela awan di ujung barat saat puluhan orang duduk melingkar di Taman Wergu, Kelurahan Wergu Wetan, Kota, Kudus. Usai berdiskusi, seorang pria dan wanita maju ke depan, melakukan gerakan pantomim. Keduanya berpersan sebagai dokter dan perawat. Namun, tak lama setelah keduanya beraksi, Ima Yulia Arfiani (29), yang tampil memerankan perawat, mengaku tidak bisa menahan tawa saat melihat aksi lucu lawan mainnya.

Komunitas Pantomim Kudus memperingati Hari Pantomim Sedunia
Komunitas Pantomim Kudus memperingati Hari Pantomim Sedunia. Foto: Ahmad Rosyidi

Ima, begitu wanita berkerudung hitam itu akrab disapa, sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com tentang pengalaman pertamanya berpantomim. Meski sudah sering melihat, dia baru pertama kali melakukannya. Belum selesai berpantomim, Ima tak bisa berhenti menahan tawanya, karena tidak tahan melihat kelucuan lawan mainnya tersebut.

“Tadi berhenti d itengah jalan saat praktek pantomim, yang jadi dokter lucu banget saat adegan kejang-kejang. Ini juga pengalaman pertama saya, tadi ditunjuk Mas Asa (Asa Jatmiko) disuruh ngasih contoh, jadi saya maju saja. Saya masih belajar, masih belum begitu tahu tentang pantomim,” terang warga Desa Rejosari, Kecamatan Dawe, Kudus itu, beberapa hari lalu.

Kegiatan diskusi yang digelar memperingati Hari Pantomim Sedunia itu, diselenggarakan Komunitas Pantomim Kudus (Kompak). Selain diikuti anggota komunitas, acara tersebut juga dihadiri sejumlah pelaku seni di Kudus, di antaranya pegiat teater Asa Jatmiko, dan Wayoto (Giok).

Dalam diskusi itu, Asa menjelaskan, pantomim adalah ekspresi dan gerak tubuh. Boleh mengeluarkan suara asal tidak menjadi dialog. Yang memperkenalkan pantomim pertama kali yaitu Charlie Chaplin, sehingga kiblat pantomim saat ini adalah Prancis.

“Pantomim menarik karena adanya visual, dan bisa dimainkan sendiri tanpa mengenal panggung. Pantomim juga bisa dipelajari siapapun, tidak hanya melucu, tetapi juga bisa diperluas. Selain itu, pantomim juga humanis dan mudah dipahami,” ungkap pegiat seni teater di Kudus tersebut.

Dia mencontohkan, Jemek Supardi, yang pernah berpantomim sepanjang perjalanan dari Jogja ke Jakarta menggunakan kereta api. Jemek yang bekerja sebagai tukang becak itu, bisa berpantomim di manapun, dan pementasannya memberikan nilai-nilai kritik sosial.

Menurutnya, Kudus memiliki potensi pantomim yang besar. Kudus sudah langganan juara tingkat provinsi pada Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N). “Kesenian di Kudus luar biasa. Pantomim di Kudus juga potensinya besar, karena siswa-siswa Kudus sudah langganan juara kegiatan FLS2N tingkan Jawa Tengah. Jadi perlu kita dukung terus,” jelas pria yang sudah dikaruniai dua anak itu.

Muhammad Ulul Azmi (24), ketua panitia diskusi, menjelaskan, kegiatan tersebut memilih tema “Bahasa Tubuh Sebagai Bahasa Perdamaian Dunia”. Dia juga menjelaskan, memilih lokasi di ruang terbuka dengan harapan Taman Wergu bisa menjadi tempat untuk berkreativitas.