Jual Gorengan Tak Laku, Jumani Kembali Tekuni Jual Perlengkapan Bangunan dan Sukses

Diposting pada

SEPUTARKUDUS.COM, JEPANG WETAN – Di Desa Jepang Wetan RT 3, RW 10, Kecamatan Mejobo, Kudus tampak sebuah rumah bercat kuning. Di samping rumah terlihat gudang beratap seng dan tanpa pintu. Di dalam gudang bagian depan tampak puluhan karung berisi begel dan besi cakar ayam. Di sana juga terlihat seorang pria memakai kaus singlet, sedang melayani pembeli. Pria tersebut bernama Jumani (37), pemilik usaha pembuatan begel dan cakar ayam di tempat tersebut.

Jumani bersama dua anak dan istrinya
Jumani bersama dua anak dan istrinya. Foto: Rabu Sipan

Kepada Seputarkudus.com Jumani sudi berbgai cerita tentang kisah hidupnya. Dia mengungkapkan, memulai usaha pembuatan begel sekitar empat tahun yang lalu tepatnya pada tahun 2013. Namun sebelum menemukan usaha tersebut Jumani mengaku terlebih dulu jatuh bangun selama puluhan tahun, dari kerja hingga merintis berbagai macam usaha.

Baca juga: Warga Jepang Wetan Ini Mampu Menjual Puluhan Ribu Begel Tiap Pekan, Omzat Belasan Juta

“Saat remaja, usia 18 tahun aku mulai kerja ikut orang Demak sebagai pelayan toko bangunan. Setelah dua tahun bekerja, karena kakaku nganggur aku rela keluar dan pekerjaan sebagai pelayan toko digantikan oleh kakaku,” kenang Jumanto yang mulai kerja pada tahun 1999.

Pria yang memanfaatkan samping rumah tinggalnya sebagai tempat usaha tersebut menceritakan, seusai keluar kerja, dirinya mencoba berjualan alat pertukangan keliling di Demak dengan modal seadanya.  Dia mengaku mengambil barang dari Semarang lalu alat pertukangan tersebut dia titipkan ke toko bangunan yang tersebar di Demak.

“Saat itu aku berjualan keliling memakai motor butut. Karena sistem jualannya, dibayar setelah barang laku, karena kekurangan modal dan tidak bisa berkembang, usaha berjualan alat pertukanganku hanya bertahan tiga tahun saja,” ungkapnya.

Pria yang sudah dikaruniai dua putra itu mengaku saat itu dirinya sudah mempunyai keluarga. Saat di tengah kebingungannya dia mencoba usaha jual beli sepeda motor. Namun karena penghasilan dari makelar motor tak tentu, Jumanto memilih pindah haluan dengan berjualan gorengan di rumah sempitnya.

“Dulu itu rumahku sangat kecil dan sempit, hanya ruang tamu dan satu kamar saja, padahal saat itu aku juga sudah dikaruniai satu anak. Dengan berjualan gorengan aku berharap bisa membangun rumah agar lebih luas. Namun ternyata harapan pupus, dan untung tak bisa aku raih bersama gorengan,” ungkap Jumani.

Menurutnya berjualan gorengan tak semudah yang dibayangkan. Selama berjualan selalu sisa, dan setiap sisa pasti dibuang karena sudah tak bisa dijual di hari esoknya. Karena ragu dengan penghasilan berjualan gorengan dan keinginan untuk bisa membangun rumah, Jumani nekat meninggalkan keluarga tercintanya untuk mengadu nasib di Negeri Jiran.

“Aku kerja di Malaysia selama dua tahun. dan alhamdulillah hasilnya bisa aku gunakan untuk membangun rumah. Dan sisanya aku buat modal untuk berjualan keliling alat pertukangan lagi. Karena sudah memiliki modal, aku kelilingannya mengguanakan mobil meski butut,” ungkapnya.

Saat berjualan alat pertukangan itu, tuturnya, para pemilik toko bangunan sering menanyakan begel dan rangakaian besi cakar ayam. Berawal dari itu dia berinisiatif melengkapi dagangannya dengan menjual begel serta rangkaian besi cakar ayam.

“Dan alhamdulillah usaha berjualan begel dan rangkaian cakar ayam itulah yang sekarang masih bertahan dan lumayan berkembang. Dalam sepekan aku bisa mengirim puluhan ribu begel dan ratusan rangkaian cakar ayam,” ucap Jumani.