Kejar Deadline Film Animasi Pasoa dan Sang Pemberani, Wildan Harus Menginap di Sekolah

Diposting pada

SEPUTARKUDUS.COM, BESITO – Tangan kanannya nampak menggerakkan mouse yang tersambung pada komputer di studio animasi SMK Raden Umar Said. Sementara tangan kirinya menyentuh keyboard hitam yang berada di atas meja computer. Di depannya tersedia dua monitor di mana nampak gambar animasi tiga dimensi yang sedang diedit. Yakni Wildan Aufa Yudha (17) siswa kelas sebelas Animasi SMK Raden Umar Said. Dia mengatakan sedang mengerjakan proyek film animasi di sekolahnya.

Kelas Animasi SMK Raden Umar Said Kudus 2017_3_5
Kelas Animasi SMK Raden Umar Said Kudus. Foto: Imam Arwindra

Menurutnya, sebelum itu dirinya bersama teman-temannya telah menyelesaikan proyek film animasi Pasoa dan Sang Pemberani yang sudah di-launcing pada Jumat (24/2/2017) lalu di Jakarta. Film animasi pertama yang dibuat siswa SMK Raden Umar Said juga sudah tayang di SCTV pada Sabtu (4/3/2017) sore. Dalam proses pembuatan film animasi Pasoa dan Sang Pemberani, dirinya mengaku terpaksa harus menginap di sekolah karena dikejar deadline.

“Waktu itu, kami dikejar deadline besok harus jadi. Akhirnya, saya dan teman-teman memutuskan untuk menginap di sekolah,” ungkapnya saat ditemui di Studio Animasi SMK Raden Umar Said, beberapa waktu lalu.

Dalam proses pembuatan animasi Pasoa dan Sang Pemberani, menurutnya yang paling sulit dan memerlukan waktu lama yakni memberikan gerakan tubuh pada karakter animasi. Karena perlu ketelitian dan harus sesuai dengan alur cerita yang sudah ditentukan. Selain alur cerita, dirinya juga harus menyesuaikan dengan karakter tokoh dan atmosfer setiap shot-nya. “Pertama sulit. Karena ada pembimbingnya, akhirnya film animasi ini bisa selesai,” jelasnya.

Wildan mengungkapkan, dia merasa belum puas dengan hasil film animasi Pasoa dan Sang Pemberani. Menurutnya, dirinya perlu belajar lebih banyak lagi untuk menjadi animator yang hebat. Meski begitu, dia mengaku bersyukur bisa sekolah di SMK Raden Umar Said. Karena fasilitas yang disediakan untuk membuat animasi sangat lengkap dan berkelas international.

“Waktu kami menginap, makan dan tidur sudah difasilitasi sekolah,” tambah Wildan yang tinggal di Desa Gondosari, Kecamatan Gebog.

Alfina Fitria Damayanti (16), kelas XI Animasi menuturkan, sebelum dirinya masuk Jurusan Animasi, dia mengaku tidak bisa menggambar. Karena di Jurusan Animasi ada belajar menggambar, akhirnya kini dia mengaku sudah pandai dalam membuat gambar animasi. Hal tersebut bisa dilakukan, karena fasilitas yang disediakan sangatlah lengkap.

“Saya bisa belajar dengan baik ditambah dengan adanya pembimbing yang professional. Saya juga bersyukur bisa masuk di SMK Raden Umar Said, dan bisa bergabung dalam pembuatan animasi Pasoa dan Sang Pemberani,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua Jurusan Design, Komunikasi dan Visual SMK Raden Umar Said, Mukhamad Rif’an (49) menuturkan, dalam pembuatan Pasoa dan Sang Pemberani pihaknya melibatkan 38 siswa dari kelas XI dan X. Menurutnya, film tersebut menceritakan tentang kearifan lokal budaya Indonesia. Dalam film tersebut, terdapat tokoh Pasoa, hewan mitologi berwujud gabungan berbagai hewan Indonesia yang hadir untuk melindungi kelestarian lingkungan dan kekayaan hayati tanah air.