Lika-liku Mencari Sosok Djamhari Penemu Kretek, Edy Stres Hingga Tanya ke Dukun

Diposting pada

SEPUTARKUDUS.COM, GETAS PEJATEN – Suara tawa hadirin sesekali terdengar di ruang utama Wedangan Pukwe, Jalan Mulya, Getas Pejaten, Kudus. Mereka sedang menyimak cerita proses penyusunan buku berjudul “Djamhari Penemu Kretek” dari penulisnya, Edy Supratno. Duduk di panggung utama dalam bedah buku itu, Edy bercerita lika-laku proses pencarian sosok Djamhari. Saking buntunya, bahkan Edy sempat pergi ke paranormal atau dukun.

Edy Supratno saat bedah buku Djamhari Penemu Kretek di Pukwe
Edy Supratno saat bedah buku Djamhari Penemu Kretek di Pukwe. Foto: Imam Arwindra

Cerita berliku itu diawali, saat Edy bersama Basuki Sugita, temannya, mendatangi paranormal. Menurutnya, ketika itu dirinya sudah bingung mencari sosok penemu kretek tersebut. Sebelum ke paranormal dirinya sempat diskusi dengan cucu Nitisemito Yudhi Ernawan. Namun Yudhi juga tidak pernah tahu sosok Djamhari. “Kalau pendapat orang kan, mbok pergi saja ke dukun,” ungkapnya Edy disambut tawa puluhan peserta bedah buku, Rabu (22/3/2017) malam.

Ketika kunjungan pertama, dirinya mengaku ditolak. Namun Edy dan Basuki Sugita mencoba kedua kalinya. Sang paranormal menunjuk Basuki Sugita bahwa wajahnya Djamhari mirip Basuki. Saat itu pula Edy bergumam, jika memang sosok Djamhari tidak ditemukan, dirinya akan membuat sketsa wajah seperti Basuki Sugita. “Waktu itu memang saya sudah mentok. Tanya pak Yudhi (Yudhi Ernawan) tidak tahu. Ke Kertosono (Kabupaten Ngajuk) juga tidak tahu. Kemana-kemana sudah mentok,” jelasnya.

Sampai suatu ketika, dirinya bertemu dengan mantan mitra kerjanya saat masih menjadi Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Kudus. Laki-laki yang dimaksud bernama Hariyanto. Menurut Edy, Hariyanto menjadi penerang saat dirinya menemui jalan buntu mencari penemu kretek. Dia memiliki tiga silsilah keluarga besar Djamhari. Kepada peserta bedah buku, dirinya menunjukkan buku besar berwarna coklat yang ditunjukkan Hariyanto. Di buku tersebut tertulis “Keluarga Besar Mbah Hardiwidjoyo dan Mbah Karsini”.

“Saya tidak mengira Pak Hariyanto ini menjadi pintu masuk yang efektif. Beliau dulunya sebagai pejabat di kecamatan. Dan saya yang dulu menyeleksinya,” tambahnya.

Saat Hariyanto ditanya tentang sosok Djamhari, dia tidak bisa menjawab. Namun Hariyanto merekomendasikan untuk bertemu orang bernama Ahmad di Bandung. Tanpa banyak berfikir, dirinya menuju ke Bandung untuk bertemu orang bernama Ahmad. “Ahmad sudah dianggap saudara sendiri  Djamhari. Dia juga pernah dinikahkan oleh Djamhari,” ungkapnya.

Menurut Ahmad, kata Edy, keluarga dan keturunan Djamhari masih ada di Kecamatan Singaparna Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Berbekal dari tulisan Ahmad, dengan perasaan sangat senang Edy segera pergi. Dirinya meyakini, cita-citanya sewaktu masih menjadi wartawan dulu akan segera tercapai, yakni menemukan sosok Djamhari. “Saya seolah-olah mendapatkan harta karun,” tambahnya yang nampak bersemangat.

Edy Setres, Djamhari Lahir di Singaparna

Sesampainya di Singaparna, Edy bertemu dengan anak Djamhari bernama Kardini. Menurut Edy, saat kedatangan Edy di Singaparna, tanggapannya sangat bagus. Sampai pada akhirnya dirinya diajak untuk mengobrol di rumahnya. Namun sayang, Kardini justru mengatakan, sosok Djamhari yang selama ini dicari-carinya lahir di Singaparna, bukan dari Kudus. Kardini mengakui Djamhari memang mempunyai keluarga besar di Jawa Tengah. Namun Kardini masih bersikeras ayahnya dilahirkan di Singaparna, bukan di Kudus. “Waduh, tengah malam saya setres,” ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.

Edy tidak menyerah, dia kemudian bertemu dengan anak Djamhari lain bernama Suaedah. Diberitahukan, anak Djamhari yang masih hidup tinggal dua, yakni Kardini dan Suaedah. Saat Edy menanyakan perihal nama Djamhari ayah kandungnya, dia dengan tegas menyatakan bahwa nama Djamhari sosok ayahnya dilahirkan di Kudus.

Suaedah, kata Edy, juga bisa menyebutkan Masijah, ibunya (istri Djamhari) berasal dari Demak. “Nenek Suaedah sekarang sudah tua. Dia juga sering sakit-sakitan. Saat saya berkunjung ke rumahnya pun dia sering jatuh di kamar mandi. Namun sambutannya luar biasa. Saya seolah-olah menjadi bagian dari keluarga besarnya,” jelasnya.

Edy menjelaskan, Suaedah adalah adik Kardini yang selalu diajak bepergian oleh Djamhari. Jumlah anak dari perkawinan Djamhari dan Masijah ada 13 orang. Tidak memungkinkan bila ke-13 anak tersebut selalu semuanya diajak, karena akan merepotkan. “Nenek Suaedah bisa dibilang anak yang paling disayang. Dia selalu diajak kemana-mana oleh Djamhari,” tambahnya.

Suaedah, kata Edy, mampu menjelaskan rumah Djamhari yang ada di Kudus dengan detail. Tentu hal ini membuktikan Suaedah tidak mengada-ngada.

Suatu sore, keluarga besar Kardini dan Suaedah dikumpulkan di rumah Kardini. Edy menuturkan dirinya bertanya tentang sosok Djamhari sang penemu kretek. Sampai pada akhirnya, jam dinding yang berada di ruangan rumah berdentang keras. Menurut Edy sebagian besar orang yang berada di ruangan melihat ke arah jam dinding berada.

Dia kemudian melihat jam dinding yang berdentang tersebut. Dia melihat jam kuno itu ada logo Bal Tiga, produk rokok kretek milik Nitisemito. Menurut Kardini jam tersebut diberikan oleh Karmain (sepupu Djamhari) dari Kudus. Menurut Edy, saat sudah menemukan titik cerah, dirinya masih ada perasaan ragu. Lantas Edy ingin ditunjukkan makam Djamhari yang dimakamkan di Tasikmalaya.

Edy menjelaskan, makam Djamhari berada di komplek makam keluarga milik Abdul Somad di Tasikmalaya. Di kompleks tersebut terdapat nama-nama kerabat Djamhari yang sesuai dengan buku silsilah yang dipegang Edy. Pada akhirnya, pembicaraan mereka menyinggung tradisi merokok Djamhari yang khas. Kardini teringat, beberapa orang pernah diberi rokok oleh bapaknya, rokok racikan yang diberi campuran cengkeh.

“Sebelum kuburan Djamhari ketemu di Tasikmalaya, saya bersama teman-teman juga pernah mencari kuburan Djamhari di Bakalan Krapyak sampai di Kertosono. Kami mencari makam-makam tua yang kemungkinan kuburan Djamhari,” ungkapnya.