Saking Tingginya Jumlah Peminat, Halimat Kewalahan Layani Permintaan Duku Sumber

Diposting pada

SEPUTARKUDUS.COM, HADIPOLO – Berbagai macam buah-buahan terlihat tertata rapi di toko Sumber Buah, Jalan Kudus-Pati, Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo, Kudus. Ada pula buah yang digantung menggunakan jaring dan plastik. Di antaranya, buah duku yang kulitnya tampak kecoklatan. Buah duku yang diwadahi plastik bening terlihat digantungkan dengan tali rafia.

Jual duku sumber 2017_3_17
Jual duku sumber. Foto: Imam Arwindra

Kepada Seputarkudus.com, pemilik toko buah, Halimah, mengatakan, duku tersebut bukanlah duku Sumber dari Desa Hadipolo. Dia mengaku kewalahan melayani permintaan duku Sumber yang banyak dicari pembeli, terutama pembeli dari Jakarta yang kebetula lewat di jalur pantura. Menurutnya, duku Sumber memang diakui lebih unggul dibandingkan dengan duku daerah lain. Namun disayangkan, tahun ini buah yang dipanen tidak bisa memenuhi permintaan masyarakat.

Baca juga: Duku Sumber, Buah Khas Kudus yang Manis Tapi Super Manja

“Tahun ini hasil panen menurun. Saya berjualan duku Sumber hanya dua bulan saja,” ungkapnya saat ditemui di toko buahnya, beberapa waktu lalu.

Dia menuturkan, Duku Sumber buah khas desa setempat setiap kilogramnya dibanderol dengan harga Rp 30 ribu hingga Rp 35 ribu. Saat masa panen dirinya membanderol harga Rp 30 ribu per kilogram. Namun setelah mulai jarang ditemukan, dirinya menaikkan harga Rp 35 ribu per kilogram. Dia mengakui minat pembeli terhadap buah duku Sumber sangatlah banyak.

“Kalau sekarang saya sudah tidak punya barangnya (duku Sumber). Di toko-toko buah lainnya saya pastikan juga sudah tidak ada. Karena memang peminatnya banyak,” tambahnya yang duduk di dekat timbangan buah.

Halimah menceritakan, saat panen buah duku Sumber beberapa waktu lalu, dirinya hanya berjualan selama dua bulan saja. Dia merinci awal Januari 2017 ada sekitar 9 kwintal lebih yang dijualnya. Setelah itu, di bulan selanjutnya hanya menjual sekitar 5 kwintal lebih. Menurutnya, setiap tahun hasil penen buah Duku Sumber menurun. Hal itu mungkin di karenakan banyaknya lahan buah duku yang beralih menjadi rumah. “Panennya satu tahun sekali,” ungkap Halimah yang sudah 10 tahun menjual duku Sumber.

Buah duku Sumber yang dijualnya, kata Halimah, didapat dari para tengkulak. Yang dia tahu, sebagian besar para tengkulak membeli buah dari petani. Selanjutnya, setiap tahun dirinya mendapat setoran dari para tengkulak. Menurutnya, duku Sumber berbeda dengan jenis duku lain yang dijualnya. Aromanya lebih harum, manis, dagingnya tebal dan kulitnya tipis. Selain itu, isi yang terdapat dalam duku lebih kecil. “Selain duku Sumber saya menjual duku Solo, Nganjuk, Salatiga dan Purbalingga,” tambahnya.