Santri Pondok Jekulo Ini Ingin Sekali Mengetahui Sosok KHR Asnawi, Berharap Temukan Buku Biografinya

Diposting pada

SEPUTARKUDUS.COM, MENARA – Suara bacaan tahlil terdengar menggema di komplek Makam Sunan Kudus. Sejumlah kiai di Kudus terlihat duduk bersila memadati area makam KHR Asnawi, di depan pengimaman Masjid Menara Kudus. Ratusan santri, juga terlihat hadir pada haul ke-59 pendiri NU tersebut.Di antaranya Muhammad Jauhar Musyadad (17), santri Ponpes Darul Falah, Jekulo.

Haul ke-59 KHR Asnawi di Komplek Makam Sunan Kudus 2017_3_25
Haul ke-59 KHR Asnawi di Komplek Makam Sunan Kudus. Foto: Imam Arwindra

Usai mengikuti haul di komplek makam, kepada Seputarkudus.com, Jauhar mengaku datang bersama teman-temannya di pondok. Dia  sengaja datang ke acara haul, karena ingin mendapatkan berkah. Sebelumnya, dia bersama temannya juga sering berziarah ke makam KHR Asnawi.

“Saya tahu KHR Asnawi, beliau pendiri NU, tapi selebihnya saya kurang begitu tahu sosoknya. Kalau Sunan Kudus kan sudah banyak buku yang mengulasnya. Untuk Yi Asnawi (KHR Asnawi) saya belum menemukan,” ungkapnya sambil tersenyum.

Menurutnya, setelah KH Ahmad Mujib Sholeh menceritakan sekilas tentang KHR Asnawi saat acara haul, dirinya sedikit mendapat referensi. Menurutnya, berdasarkan cerita dari cucunya itu, KHR Asnawi merupakan sosok kiai yang disiplin dan teguh dalam memegang prinsip.

“Selain itu beliau (KHR Asnawi) juga istiqomah dalam menjalankan sesuatu. Contohnya tadi, Yi Asnawi tidak pernah absen dari forum Muktamar NU. Saat mengikuti Muktamar NU terakhirnya pada 1958, itu acara muktamar yang terakhir yang bisa diikuti,” jelasnya yang duduk di kelas 12 MA Nurul Ulum, Jekulo.

Jauhar berharap ada buku khusus yang mengulas lebih detail tentang sosok KHR Asnawi serta perjuangannya. Dirinya masih penasaran tentang sosok kiai dari Kudus satu ini. Dengan buku itu, dia berharap generasi penerus seperti dirinya dapat lebih mengenal tokoh pendiri dan penggerak NU.

Dalam haul tersebut, sejumlah kiai hadir, di antaranya KH Muhammad Ulil Albab Arwani, KH Ulin Nuha Arwani, KH Saifuddin Lutfi, KH Hasan Fauzi, KH EM Nadjib Hassan, serta cucu Kiyai KHR Asnawi, KH Ahmad Mujib Sholeh.

KH Ahmad Mujib Sholeh dalam kegiatan haul menuturkan, kakeknya adalah sosok yang lurus dan tidak neko-neko.  Selain itu juga disiplin dan teguh memegang prinsip. Di contohkan saat manghadiri Muktamar NU, terdapat foto presiden pertama Indonesia Soekarno, yang terpampang dalam ruangan.

Menurutnya, saat itu KHR Asnawi meminta untuk segera dicopot. Dirinya juga mengancam, kalau tidak dicopot akan pulang. “Mbah Asnawi berperinsip rumah yang ada fotonya tidak akan didatangi malaikat,” ungkapnya yang nampak didengarkan oleh ratusan masyarakat yang hadir.

Selanjutnya, dirinya juga menceritakan, jika kakeknya mendengar saat ada adzan, namun ada suara radio, dia akan mendatangi sumber suara dan meminta suara radio dimematikan. Semasa hidup, KHR Asnawi juga melarang santri melepas peci, Karena menurut dia, hal itu akan membuat santri bisa menjadi nakal dan jauh dari agama.

“Mbah Asnawi juga selalu berpesan kepada santrinya agar selalu mengikuti dawuh (perkataan) kiai salaf,” tambahnya.