Sempat Mati Suri, Usaha Roti Mulia Bakery Bangkit Lagi Setelah Wati Masuk BLK

Diposting pada

SEPUTARKUDUS.COM, NGEMPLAK – Di tepi utara jalan Desa Ngemplak Gang 7, Kecamatan Undaan, Kudus, tampak sebuah rumah bertembok putih. Di dalam rumah terlihat dua orang wanita sedang memasukan roti ke dalam kardus kecil. Di dapur tampak seorang perempuan memakai jilbab coklat sedang memasukan adonan kue ke dalam mesin oven. Dia bernama Laili Rahmawati (36), pemilik usaha Mulia Bakery.

Lail Rahmawati, pemilik Mulia Bakery Kudus 2017_3_25
Lail Rahmawati, pemilik Mulia Bakery Kudus. Foto: Rabu Sipan

Perempuan yang akrab disapa Wati itu, sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com tentang usaha pembuatan roti. Dia mengungkapkan, memulai usaha membuat roti sejak tahun 2002. Dia menuturkan, sebelum membuka usaha terlebih dulu ikut kerja kakaknya selama setahun.

“Saat itu aku masih lajang, dengan bekal pengalaman ikut kerja kakak, aku memutuskan membuka usaha membuat kue bersama ibuku. Saat itu roti hasil produksi aku titipkan ke warung dan toko seluruh Kecamatan Undaan. Sedangkan ibuku kebagian tugas menjual aneka roti produksiku ke Pasar Wates dan Pasar Kalirejo,” ungkap Wati yang mengaku menikah pada tahun 2013.

Dia menuturkan, saat itu roti hasil produksinya berukuran kecil dan banyak diminati orang, bahkan sehari dirinya mampu memproduksi sekitar 900 roti dengan harga satuan Rp 400. Namun katanya, setiap usaha pasti menemui rintangan. Usaha pembuatan rotinya sempat berhenti karena ada toko roti terkenal Kudus yang buka cabang tak jauh dari desanya.

“Sejak satu di antara toko roti terkenal Kudus buka cabang di Jalan Kudus-Purwodadi. Roti hasil produksiku kurang begitu diminati, dan aku rugi karena banyak roti yang retur hingga aku memutuskan untuk berhenti produksi dan hanya menerima pesanan saja,”ungkap Wati.

Perempuan yang sudah dikaruniai dua anak itu mengungkapkan, pada 2012 ada perangkat desa yang menawarinya untuk ikut pelatihan home industry. Dirinya, saat itu sangat antusias mengikuti pelatihan tersebut. Dan setahun kemudian dia mengikuti pelatihan kerja yang diadakan Pemerintah Kudus Kabupaten Kudus di Balai Latihan Kerja (BLK).

“Di kedua pelatihan tersebut aku diajari banyak tentang membuat aneka macam roti dengan pilihan rasa yang tentunya lebih enak. Aku juga diajari membuat roti dengan tampilan yang menggoda,” katanya.

Setelah ikut dua pelatihan tersebut, dia bersyukur ada orang yang memesan roti hingga dirinya berkesempatan mempraktikan ilmu yang didapatkannya. Dan dirinya bersyukur yang pesan tersebut puas dan suka dengan rasa roti buatannya, hingga dari kabar mulut ke mulut roti buatanya yang diberi nama Mulia Bakery makin diminati dan dipesan banyak orang.

Menurutnya pemesan roti Mulia Bakery tidak hanya orang Kudus, tapi juga Demak, Purwodadi, Pati dan lainnya. Saat ramai Wati mengaku mampu menerima pesanan hingga 3.000 kardus roti sebulan, dan saat sepi, masih mampu menerima sekitar 1000 kardus roti.

“Aku bersyukur roti Mulia Bakery hasil produksiku diminati banyak orang. Dan hasilnya juga sudah lumayan, termasuk untuk biaya bangun toko untuk menjual aneka roti produksiku yang berada di Desa Jetis Kapuan, Jati, Kudus. Semoga nanti saat aku pasarkan di toko, rotiku makin laris dan usahaku tambah berkembang,” harapnya.