Tak Lulus SD, Karmijan Mampu Mendirikan Usaha Produksi Gula Tumbu dan Bertahan Hingga Sekarang

Diposting pada

SEPUTARKUDUS.COM, PUYOH – Di tepi timur jalan Desa Puyoh, Kecamatan Dawe, Kudus, tampak sebuah rumah bertembok kuning. Di samping rumah, terlihat dua orang di bawah bangunan tak berdinding sedang memasukan batang tebu ke mesin penggilingan. Di antara rumah dan bangunan tampak seorang pria tua memakai berkaus lengan pendek sedang mengecek ampas tebu sisa penggilingan. Pria tersebut bernama Karmijan (70), pemilik usaha pembuatan gula merah.

Karmijan, produsen gula tumbu Desa Puyoh, Dawe, Kudus
Karmijan, produsen gula tumbu Desa Puyoh, Dawe, Kudus. Foto: Rabu Sipan

Kepada Seputarkudus.com, Karmijan sudi berbagi kisah tentang usaha pembuatan gula tumbu miliknya. Dia mengungkapkan, memulai usaha pembuatan gula merah pada tahun 1965. Pada saat itu dirinya belum menikah dan baru berusia 20 tahun. Saat itu dirinya nekat memulai usaha, karena sudah bosan menjadi kuli.

“Sebelum membuka usaha sendiri, aku kerja ikut orang yang memiliki usaha pembuatan gula merah selama lima tahun. Di situ aku menjadi kuli serabutan. Karena aku juga ingin memiliki usaha serupa, saat bekerja, semua aku pelajari dari pembuatan hingga penghitungan biaya produksi,” ungkap Karmijan yang mengaku tak lulus sekolah dasar (SD) itu.

Warga Desa Puyoh, Dawe, Kudus itu mengatakan, sejak masih kerja dirinya mulai berbisnis tebu. Dirinya membeli tebu milik warga untuk disetorkann ke pembuat gula di tempat dia bekerja. Dari bisnis tersebut dia mengaku bisa mendapatkan keuntungan yang kemudian dikumpulkan untuk dijadikan modal usaha.

“Setelah aku rasa modal sudah cukup terkumpul aku keluar dan buka usaha pembuatan gula merah. Meski begitu aku masih menjadi penebas tebu, selain untuk produksi gula merah sendiri, tebu hasil tebasan tersebut aku kirim ke pabrik gula,” ungkapnya.

Pria yang dikaruniai tiga anak itu mengatakan, pada awal merintis usaha pembuatan gula hanya mampu memproduksi sekitar 400 kilogram gula merah sehari. Menurutnya, saat itu gula hasil produksinya dia kirim ke beberapa toko milik warga Tionghoa yang berada di Pasar Kliwon Kudus.

Berbeda dengan dulu, katanya, saat ini hasil produksi gula merah miliknya bisa menghasilkan sekitar 18 ton sebulan dengan harga gula merah saat ini Rp 700 ribu per kwintal. Menurutnya, sekarang dirinya juga tak perlu repot mengirim, karena setiap hari gula hasil produksinya langsung diambil para tengkulak.

“Aku bersyukur usaha yang aku rintis puluhan tahun silam masih bertahan hingga sekarang. Dari usaha pembuatan gula merah aku mampu hidup berkecukupan, bangun rumah, punya truk untuk operasional, dan mobil keluarga. Sekarang, satu diantara tiga anaku juga mengikuti jejaku mendirikan usaha pembuatan gula merah,” ungkapnya.