Danar: Sejarah Kudus Sangat Lengkap, Tak Berlebihan Menyandang Gelar Museum Peradaban

Diposting pada

SEPUTARKUDUS.COM, UMK – Layar putih 4×4 meter menampilkan visual dari proyektor pada acara Bioling (Bioskop Keliling) dan Diskusi Budaya, di Universitas Muria Kudus (UMK). Layar itu menampilkan film dokumentasi sosok pencari batu candi bernama Rabiman, dengan judul “Tangan-Tangan Terpilih”. Setelah pemutaran film, puluhan peserta yang hadir disuguhi video dokumentasi cagar budaya yang dibuat oleh Jaringan Edukasi Napak Tilas Kabupaten Kudus (Jenank).

Pemutaran film Tangan-Tangan Terpilih di UMK 2017_4
Pemutaran film Tangan-Tangan Terpilih di UMK. Foto: Imam Arwindra

Kepada Seputarkudus.com, Kordinator Jenank Kudus Danar Ulil sudi berbagi penjelasan tentang video dokumentasi tersebut. Menurutnya, video itu sengaja dibuat untuk diputar dalam kegiatan bertema “Kudus Museum Peradaban” tersebut. Menurutnya, Kudus sangat relevan menyandang predikat tersebut, jika dilihat dari berbagai fase dalam masa-masa sejarah.

“Dokumentasi tersebut memperlihatkan beragam tempat sejarah dan cagar budaya yang ada di Kudus. Maka tak berlebihan jika Kudus mendapat predikat sebagai museum peradaban,” ungkapnya saat ditemui di tempat kegiatan Lapangan Basket Universitas Muria Kudus (UMK), Sabtu (8/4/2017).

Danar menjelaskan, setiap fase dalam sejarah dibuktikan dengan adanya bangunan yang masih bisa dijumpai di Kota Kretek hingga sekarang. Fase masa itu dimulai dari masa purbakala. Hal tersebut dibuktikan dengan ditemukannya fosil-fosil purbakala di daerah Desa Terban, Kecamatan Jekulo.

Selanjutnya, kata Danar, fase masa Hindu-Budda. Fase tersebut disimbolkan adanya Langgar Bubrah di Desa Demangan, Kecamatan Kota. Pada peninggalan sejarah tersebut dapat dijumpai Lingga dan Yoni. Sedangkan setelah itu, pada masa Islam terdapat peninggalan Raden Ja’far Shohdiq (Sunan Kudus) yakni Masjid dan Menara Kudus.

Sedangkan masa kolonial, terdapat parik gula Rendeng dan Stasiun Kudus. Masa Revolusi Kemerdekaan terdapat Tugu Komando Daerah Muria Desa Glagah Kulon, Kecamatan Dawe dan terakhir pada masa kontemporer pasca kemerdekaan berdirilah Museum Kretek dan Gerbang Kudus Kota Kretek di perbatasan Kudus Demak. “Jadi sangat relevan jika Kudus disebut museum peradaban,” terangnya.

Sementara itu, dalam kegiatan yang diselenggarakan BEM UMK Kudus, menurut Presiden Mahasiswa Syafiq Bulloh Amin menuturkan, kegiatan yang dihgelar di lapangan basket UMK itu untuk meningkatkan perhatian serta kepedulian terhadap cagar budaya yang ada di Indonesia.

“Kami bekerja sama dengan Jenank, Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah, Dinas Budaya dan Pariwisata Kudus (Disbudpar) dan Malam Museum Yogjakarta. Dengan adanya kegiatan ini diharapkan generasi muda mampu merawat dan menjaga cagar budaya yang ada,” ungkapnya.

Dalam diskusi yang dilakukan di atas karpet biru mengundang sebagai narasumber Sutiyono, Kepala Seksi Sejarah dan Peninggalan Purbakala Disbudpar Kudus, sejarahwan Kudus Edy Supratno dan akademisi Nur Said.