Daya Beli Tinggi, Alasan Mawan Rela Datang dari Ponorogo Produksi Ornamen Beton di Kudus

Diposting pada

SEPUTARKUDUS.COM, UNDAAN LOR – Tiga orang tampak sibuk membuat ornamen beton hiasan rumah di dalam bangunan beratap seng tanpa dinding di tepi Jalan Kudus-Purwodadi, Desa Undaan Lor, Kecamatan Undaan, Kudus. Satu di antara tiga orang tersebut memakai kaus berwarna hitam. Pria tersebut bernama Darmawan (32). Jauh-jauh dari Ponorogo dirinya membuka usaha produksi dan menjual aneka ornamen di Kudus.

Produksi ornamen rumah berbahan beton di Undaan Lor, Kudus 2017_4
Produksi ornamen rumah berbahan beton di Undaan Lor, Kudus. Foto: Rabu Sipan

Kepada Seputarkudus.com pria yang akrab disapa Mawan itu sudi berbagi penjelasan tentang usahanya di Kota Kretek. Dia mengungkapkan, memilih Kudus untuk memulai usahanya karena saat itu belum ada usaha serupa sehingga minim persaingan. Menurutnya, hampir seluruh daerah Jawa Tengah yang masih dekat dengan Jawa Timur, sudah penuh usaha serupa.

“Kebanyakan pemilikan usaha pembuatan aneka ornamen beton hiasan rumah itu orang Ponorogo. Jadi aku paham daerah mana saja yang sudah ada usaha serupa. Dari Wonogiri hingga Pati, Jepara itu hampir penuh pelaku usaha pembuatan Ornamen. Saat ini di Kudus hanya ada dua, aku dan temanku yang berada di tepi Jalan Kudus-Jepara,” ungkap pemilik UD Mulya Beton.

Mawan mengatakan, selain masih minim persaingan, ekonomi dan daya beli masyarakat di Kudus tinggi. Di Kudus juga sudah banyak rumah berdinding bata, sehingga orang yang ingin memperhias rumahnya bisa membeli ornamen buatannya.

Dia mengatakan, ornamen yang diproduksi antaranya, lis dinding yang dijual mulai harga Rp 15 ribu hingga Rp 35 ribu per mester, dan tiang teras dibanderol mulai Rp 260 ribu sampai Rp 350 ribu per tiang dengan berbagai ukuran.

“Sedangkan gapura pintu masuk gang atau desa aku jual dengan harga Rp 450 ribu. Sikon corbel aku jual seharga Rp 6 ribu sampai Rp 15 ribu satu. Untuk kubah kecil aku hargai Rp 120 ribu, dan lisplang aku jual dengan harga Rp 280 ribu per dua meter,” rinci Mawan.

Pria yang sudah dikaruniai satu anak itu mengungkapkan, selain menyediakan kubah kecil juga menerima pesanan kubah besar dengan harga Rp 10 juta dengan diameter semester. Dia mengaku juga menerima pemasangan tiang, gapura, lisplang dengan ongkos Rp 200 ribu hingga Rp 250 ribu.

Menurutnya, selain menyetok ornamen yang telah jadi, Mawan juga menerima pesanan dengan berbagai bentuk sesuai keinginan pembeli. Dari order dan penjualan yang diterima, dia mengaku mampu meraup omzet Rp 15 juta hingga Rp 20 juta sebulan. Dengan jumlah tersebut, tahun lalu dia mampu membeli mobil bak terbuka untuk operasional.

“Aku berharap usaha pembuatan aneka ornamen beton karyaku makin diminati banyak orang dan selanjutnya bisa berkembang. Dan semoga saja kelak aku bisa membuka cabang dan memberi pekerjaan pada tetanggaku lainnya,” ujar Mawan.