Di Lokasi Air Terjun Mpetung, Pengunjung Bisa Berkemah Ditemani Suara Gemericik Air dan Serangga

Diposting pada

SEPUTARKUDUS.COM, RAHTAWU – Gemericik air terjun Mpetung tampak di antara rimbunnya pepohonan di Dukuh Semliro, Desa Rahtawu, Kecamatan Dawe, Kudus. Air terjun setinggi 13 meter tersebut jatuh di bebatuan, yang airnya langsung mengalir menuju hilir. Pada tumpukan batu yang ditata datar tersebut, ada sebuah balok kayu yang biasa digunakan untuk berfoto. Ada pula jembatan bambu sepanjang sekitar tiga meter dengan tulisan di atasnya ‘Air Terjun Mpetung’ yang dipenuhi wisatawan untuk berfoto.

Foto di jembatan banbu Air Terjun Mpetung, Rahtawu, Kudus 2017_4
Foto di jembatan banbu Air Terjun Mpetung, Rahtawu, Kudus. Foto: Imam Arwindra

Di sekitar air terjun terdapat beberapa bukit kecil datar, menurut pengelola Air Terjun Mpentung, Tantri (20), dapat digunakan wisatawan untuk berkemah. Dia menjelaskan, wisatawan dapat membangun tenda di atas bukit maupun di depan air terjun. “Di sini (Air Terjun Mpentung) juga bisa untuk camping. Nanti bisa di sekitar air terjun,” ungkapnya saat ditemui di lokasi Air Terjun Mpetung belum lama ini.

Baca juga: Air Terjun Mpetung, ‘Surga’ Tersembunyi di Semliro, Rahtawu

Tantri menjelaskan, camping di sekitar lokasi air terjun menurutnya spot wisata baru di Kudus yang bisa dinikmati wisatawan. Menurutnya, selain keindahan alam siang hari, Air Terjun Mpetung juga menawarkan keindahan alam pada malam hari. “Arah depan air terjun kita bisa langsung melihat puncak pegunungan Muria. Kalau tidak mendung, tentu kita akan tidur di bawah taburan bintang,” tuturnya yang mengundang penasaran.

Dengan hawa sejuk dan suara serangga, menurut Tantri, pengunjung yang datang ingin berlama-lama di lokasi air terjun. Air terjun yang mulai dirawat tahun 2014, menurut Tantri berada di tanah milik pribadi seluas kurang satu hektare. “Tanah tersebut milik keluarga, warisan leluhur kami,” jelasnya.

Dia menjelaskan, untuk menuju ke lokasi air terjun, pengunjung menempuh perjalanan sekitar 30 menit dengan jarak sekitar 1,5 kilometer. Perjalanan dapat dilakukan dengan jalan kaki maupun menaiki motor. Namun dirinya menyarankan untuk berjalan kaki karena melihat medan setapak yang di bawahnya terdapat jurang. “Bisa ditempuh dengan motor. Namun ya hati-hati. Untuk kami sendiri belum menyediakan fasilitas tersebut (motor). Mungkin ke depannya akan disediakan,” tambahnya.

Selain itu, tempat berteduh di dekat air terjun pun diakuinya hanya satu. Menurutnya, pihaknya masih harus membuatkan beberapa fasilitas untuk wisatawan yang datang. Dia menceritakan, untuk pembuatan jalan menuju air terjun dilakukan oleh bapaknya. Sebelum akses jalan dibuat, pengunjung yang ingin ke Air Terjun Mpetung, harus melewati medan bebatuan yang bawahnya langsung jurang. “Nama Mpetung itu karena hutannya dinamakan Alas Mpetung,” jelasnya.

Tantri melanjutkan, untuk hari-hari biasa pengunjung yang datang sekitar 10 orang. Khusus hari Minggu dan tanggal merah terdapat 70 hingga 80 orang. Pihaknya menetapkan harga tiket masuk Rp 3 ribu per orang. “Untuk sementara bayar hanya hari Minggu saja. Untuk hari-hari biasa gratis,” tambahnya.