Hanya Bermodal Rp 5 Juta, Mahasiswa UMK Ini Bisa Buat Mesin Seperti Buatan Jerman Seharga Rp 55 Juta

Diposting pada

SEPUTARKUDIS.COM, UMK – Sejumlah mahasiswa terlihat sibuk mengerjakan prakarya di ruangan Gedung K Universitas Muria Kudus (UMK). Seorang mahasiswa duduk di sudut ruangan dengan laptop di depannya. Pria itu yakni Muhammad Hadi Susanto (28), yang tengah membuat mesin sensor torsi. Dengan alat yang dibuatnya tersebut, pengujian keausan two disc pada mesin beroda gigi bisa dilakukan tanpa harus membeli alat seharga puluhan juta rupiah.

Hadi mencoba mesin penguji keausan two disc di Gedung K UMK
Hadi mencoba mesin penguji keausan two disc di Gedung K UMK. Foto: Imam Arwindra

Hadi, begitu dia akrab disapa, sudi berbagi penjelasan kepada Seputarkudus.com tentang mesin yang dibuatnya untuk syarat kelulusan Jurusan Teknik Mesin di UMK. Dia mengatakan, selama proses pembuatan mesin alat uji keausan two disc, membuat sensor torsi menjadi hal yang paling sulit diantara komponen-komponen yang lain. Dia membutuhkan waktu selama tiga bulan untuk membuat sensor tersebut, dan menghabiskan biaya kurang lebih Rp 5 juta.

“Kalau beli alatnya (uji keausan two disc) yang buatan Jerman harganya Rp 55 juta. Kalau buatan Tiongkok sekitar Rp 17 juta, tapi belum ongkos kirim. Saya membuat alat ini mengeluarkan dana kurang lebih Rp 5 juta,” terang Hadi saat ditemui di UMK, beberapa waktu lalu.

Hadi juga merinci jenis-jenis bahan yang sudah diuji menggunakan mesin yang dia buat. Di antaranya kuningan, aluminium, baja ST-60, baja ST-90, roda gigi produk usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) dan produk pabrikan. Menurutnya, dari bahan-bahan yang sudah diuji, baja ST-90 yang paling bagus.

“Kalau menurut saya baja ST-90 yang paling bagus. Tetapi juga butuh menyesuaikan beban dan kecepatan, ada bahan yang keras tapi lebih elastis dan ada bahan yang keras kaku. Untuk harga bahan-bahan yang saya uji, kisaran Rp 15 ribu hingga Rp 20 ribu per kilo gram,” ungkap Hadi saat ditemui Seputarkudus.com belum lama ini.

Dia berencana menghibahkan mesin tersebut untuk digunakan adik-adik angkatannya, agar bisa dibuat bahan penelitian. Hadi ingin membuat alat serupa dan membuka usaha produksi roda gigi. Karena dengan menggunakan alat tersebut dia bisa mengetahui roda gigi yang tepat untuk kendaraan maupun alat yang membutuhkan roda gigi.

“Setelah lulus, saya ingin membuka usaha produksi roda gigi. Karena dengan alat ini saya bisa memberikan yang terbaik untuk konsumen. Saya bisa menghitung kecepatan dan beban yang dibutuhkan konsumen,” tambahnya.