Komunitas Kudus Bergerak Serukan Muda Berdaya Melalui Goresan Cat di Tembok

Diposting pada

SEPUTARKUDUS.COM, PANJUNAN – Di  timur tepi Jalan dr Ramelan, Desa Panjunan, Kota Kudus, tampak sejumlah pemuda sedang membuat mural di tembok ruko. Beberapa di antaranya ada yang meracik cat, dan sebagian lainnya menggores cat di tembok menggunakan kuas. Mereka adalah anggota Komunitas Kudus Bergerak, yang sedang menyerukan pesan untuk para pemuda di Kudus.

Komunitas Kudus Bergerak melakukan aksi pembuatan Mural di Panjunan 2017_4
Komunitas Kudus Bergerak melakukan aksi pembuatan Mural di Panjunan. Foto: Ahmad Rosyidi

Novian Tri Wicaksono (23), satu di antara anggota komunitas tersebut, mengungkapkan, aksi moral tersebut dilakukan berawal dari keresahan mereka melihat kondisi pemuda saat ini. Pesan yang disampaikan melalui tulisan di tembok tersebut yakni “Muda Berdaya Bukan Diperdaya”. Menurutnya, pemuda memiliki energi yang besar, sangat disayangkan jika energinya hanya digunakan untuk hal-hal yang tidak produktif, atau bahkan negatif.

“Melalui mural ini kami berharap bisa memberi penyadaran dan pengaruh bagi pemuda untuk melakukan hal-hal yang positif, kreatif dan produktif,” ujar Payon, sapaan akrab Novian Tri Wicaksono, saat berlangsungnya kegiatan tersebut, belum lama ini.

Selain membuat mural di tembok, katanya, Kudus Bergerak juga membuat lagu berkolaborasi dengan band asal Semarang The Jaka Plus, untuk menyuarakan Muda Berdaya Bukan Diperdaya. Dan saat ini masih dalam proses pembuatan video klip. Payon mengaku, dalam proses pembuatan mural dan lagu, mereka mengumpulkan uang secara kolektif untuk kegiatan tersebut.

“Kami juga menggandeng band The Jaka Plus dari Semarang. Kebetulan saudara saya ada yang menjadi personelnya, jadi saya beri tawaran untuk kolaborasi. Sudah sekitar satu bulan menyerukan Muda Berdaya Bukan Diperdaya, rencana akan terus kami serukan hingga ada perubahan,” terang ketua Kudus Bergerak itu.

Payon menjelaskan, awalnya mereka menggunakan nama Kudeta pada komunitas mereka, pada tahun 2014. Komunitas tersebut terbentuk awalnya hanya kumpulan sejumlah orang yang aktif di berbagai komunitas di Kudus. Mereka menggagas tentang penyalahgunaan taman yang digunakan, misalnya untuk tempat pacaran dan hal-hal yang tidak produktif. Karena nama itu dinilai kurang pantas, kemudian diganti menjadi Kudus Bergerak pada tahun yang sama.

“Berawal dari gerakan bersama dari berbagai komunitas pada tahun 2014, waktu itu kami menyuarakan tentang pemanfaatan taman. Karena digunakan untuk pacaran, mabuk-mabukan, jadi orang-orang yang ingin mengajak anaknya bermain di taman merasa terganggu. Dan kami menggagas tentang pemanfaatan taman untuk hal-hal yang positif,” jelas waga Desa Tanjungrejo, Kecamatan Jekulo, Kudus itu.

Dia menambahkan, Kudus Bergerak saat ini memiliki delapan anggota. Payon mempersilakan bagi siapa saja yang ingin ikut berpartisipasi pada setiap kegiatan yang mereka buat. “Karena kami memiliki kesibukan masing-masing, jadi tidak ada pertemuan rutin yang pasti. Sekretariat kami di Gang Jambu, Desa Barongan, Kota Kudus,” tambahnya.