Menikah di Tahun Duda, Hasan: Semua Hari Itu Baik

Diposting pada

SEPUTARKUDUS.COM, KARANGMALANG – Kedua mempelai terlihat duduk di sofa warna coklat dengan ornamentbunga di belakangnya. Mempelai laki-laki nampak mengenakan baju dan peci serba putih, demikian pula memempelai perempuan. Mereka yakni pasangan Achmad Hasan dan Fitriani Khomsah, yang baru saja melangsungkan pernikahan belum lama ini, di kediaman mempelai wanita, Desa Karangmalang, Kecamatan Gebog, Kudus.

Hasan dan Pipit merayakan pernikahan
Hasan dan Pipit merayakan pernikahan. Foto: Imam Arwindra

Wajah kedua mempelai itu tampak semringah saat beberapa undangan datang dan bersalaman di atas pelaminan. Sesekali sesi foto mereka lakukan untuk mengabadikan momen bahagia tersebut.

Berdasarkan penanggalan Jawa, saat ini memasuki tahun 1950. Banyak masyarakan mengatakan, tahun ini berdasarkan penanggalan Jawa sebagai tahun duda. Hal tersebut juga sudah disadari Hasan, panggilan akrab Achmad Hasan.

“Iya saya tahu saya menikah pada tahun duda. Tapi ya positif thingking saja, semua hari itu baik,” ungkapnya selepas melaksanakan pernikahan.

Dia melanjutkan, memang ada mitos yang menyatakan jika menikah di tahun duda, umur pernikahan tidak berlangsung lama. Sebagai orang Jawa, Hasan antara percaya dan tidak percaya. Dirinya tetap menikah pada tahun ini karena mendapat wasiat dari mendiang ibunya. “Sebelum meninggal, ibu berwasiat untuk menikah satu tahun setelah bapak meninggal. Ya karena sudah wasiat, harus dijalankan,” jelasnya.

Selain itu, kata Hasan, kakak-kakaknya juga mendukung untuk melangsungkan pernikahan, walau bertepatan dengan tahun duda. Menurutnya, semua hari itu baik. Tinggal nanti bagaimana menjalaninya. “Sudah lama saya berpacaran dengan istri saya. Dan memang hari ini yang kami nantikan,” tambahnya.

Terpisah, Dian Arum, warga Desa Prambatan Lor, Kecamatan Kaliwungu, juga melangsungkan pernikahan pada tahun duda. Dia mengaku sempat khawatir karena mitos tahun duda. Namun karena banyak saran dari orang tua, saudara dan pemuka agama, akhirnya pernikahannya dapat tetap dilangsungkan. “Nikah kan baik. Kalau bisa jangan ditunda-tunda,” tutur Dian yang dipersunting Bayu Hidayat.

Dian melanjutkan, dalam penentuan hari pernikahannya juga sama seperti masyarakat Jawa pada umumnya. Keluarganya menghitung weton dirinya dan suaminya. Sebenarnya, tanggal pernikahannya akan dilangsungkan di akhir tahun 2017, namun dengan perhitungan ulang dan pertimbangan yang matang dari keluarga besar, akhirnya pernikahan dilangsungkan pada Februari 2017.

“Saya juga tahu tentang adanya tahun duda, tapi ya antara percaya dan tidak. Setahu saya semua hari itu baik,” terangnya.

Sementara itu, ahli penanggalan Jawa yang juga guru Bahasa Jawa Madrasah Tasywiquth Thullab Salafiyyah (TBS) Waluyo menjelaskan, yang dimaksud tahun duda, yakni setiap sewindu (delapan tahun) terdapat dua kali tahun yang dinamakan tahun duda. Menurutnya, tahun duda yakni tahun yang jatuh pada 1 Suro dalam sewindu dengan hitungan tahun Alif hingga Jim-2, namun tidak mempunyai pasangan pasaran dengan tahun lain.

“Jadi awal tahun Jawa ada alif, ha, jim-1, za, dal, ba, wawu dan jim-2. Tahun dudanya atau kurup asapon pada za dan wawu yang tidak mempunyai pasangan pasaran,” tambahnya.