Meski Hanya Punya Sawah Satu Petak, Mbah Rukin Untung Hingga Rp 4 Juta dari Penjualan Bibit

Diposting pada

SEPUTARKUDUS.COM, KALIREJO – Di tepi Jalan Kudus-Purwodadi tepatnya di perbatasan Desa Medini dan Desa Kalirejo, Kecamtan Undaan, Kudus, tampak beberapa orang menaikan puluhan ikat bibit padi ke mobil bak terbuka. Tak jauh dari mobil itu, terlihat seorang pria renta memakai peci sedang mengamati kegiatan beberapa temannya tersebut. Pria renta itu bernama Rukin (60), penjual bibit padi di desa setempat.

Rukin (mengenakan peci) penjual bibit padi di Desa Kalirejo, Kecamatan Undaan, Kudus
Rukin (mengenakan peci) penjual bibit padi di Desa Kalirejo, Kecamatan Undaan, Kudus. Foto: Rabu Sipan

Sambil mengamati kegiatan tersebut Rukin sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com tentang usaha berjualan bibit padi. Dia mengungkapkan, menjual bibit di tepi jalan tepatnya di seberang makam Desa Medini, Undaan, Kudus sudah hampir sekitar 30 tahun. Menurutnya, sejak menekuni usaha penjualan bibit padi, sawahnya tidak pernah ditanami padi. Namun dia menebah benih, dan bibit yang padi yang tumbuh kemudian dia jual.

“Aku hanya punya sawah satu petak. Kalau aku tanami padi paling aku mendapatkan uang Rp 800 ribu dengan jangka waktu empat bulan saat panen. Berbeda saat aku tanami bibit, dalam jangka waktu sebulan saja aku bisa mendapatkan penghasilan bersih Rp 4 juta,” ujar Rukin sambil menyalakan rokoknya.

Warga Desa Kutuk, Undaan, Kudus itu menuturkan, penghasilan Rp 4 juta itu saat harga bibit sedang mahal, sekitar Rp 3 ribu per ikat. Sedangkan saat harga turun, dia mengaku hanya mendapatkan penghasilan bersih sekitar Rp 2 juta sebulan.

“Saat harga anjlok sekalipun mananam bibit lalu aku jual itu tetap lebih menguntungkan. Karena lebih menguntungkan itulah, alasanku bertahan hingga puluhan tahun untuk berjualan bibit padi. Meski lebih menguntungkan, namun penjualanku waktunya terbatas hanya enam bulan saja,” jelas Rukin sambil menghisap rokok kreteknya dalam-dalam.

Pria yang sudah dikaruniai tiga anak dan dua cucu itu mengatakan, waktu berjualan yang tidak setahun penuh itu karena masa tanam padi hanya dua kali. Untuk memaksimalkan penjualan dan agar stok bibitnya selalu tersedia di lapaknya setiap hari, dia juga membeli bibit pada orang lain lalu dijualnya kembali.

Rukin mengaku memiliki banyak pelanggan. Tidak hanya petani Kudus saja yang membeli bibit dari tempatnya, melainkan juga para petani dari Pati, Demak, Grobogan, Jepara dan tentunya Kudus. Dalam sehari rata-rata dirinya bisa menjual sekitar 600 ikat bibit padi.

“Aku bersyukur dengan memanfaatkan sawah yang hanya satu petak, aku mampu mencukupi kebutuhan keluarga. Sekarang aku juga sudah dikaruniai dua cucu, jadi berjualan bibit ini selain menguntungkan juga bisa aku buat untuk mengisi waktu masa tua, dan tetap bertemu dengan teman lama di pasar bibit Kalirejo,” ungkapnya.