Pernah Jadi Orang Tak Punya, Gondrong Gratiskan Potong Rambut untuk Yatim Piatu dan Duafa

Diposting pada

SEPUTARKUDUS.COM, NGEMBAL REJO – Di tepi timur jalan Dukuh Conge, Desa Ngembalrejo Gang 10, Kecamatan Bae, Kudus, tampak sebuah bangunan beratap esbes. Di dalam bangunan terlihat seorang pria berambut gondrong sedang memotong rambut anak kecil. Pria itu bernama Ridwan (35), pemilik tempat potong rambut Ganteng. Pernah merasakan susahnya jadi orang tak punya, dia menggratiskan potong rambut untuk yatim piatu dan kaum duafa.

Gondrong memotong rambut anak kecil di tempat potong rambut miliknya
Gondrong memotong rambut anak kecil di tempat potong rambut miliknya. Foto: Rabu Sipan

Seusai memotong rambut pria yang akrab disapa Gondrong itu sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com tentang idenya tersebut. Dia mengatakan, sejak membuka usaha potong rambut tujuh bulan lalu, dirinya memang berniat menggratiskan biaya potong rambut untuk yatim piatu dan orang-orang tak mampu. Dia ingin bekerja sambil beramal dan berbagi kepada sesama yang membutuhkan.

“Selain ingin berbagi, inspirasi tersebut juga datang saat aku mengingat dulu jadi orang tak punya. Karena setelah aku keluar dari perusahaan rokok tempatku bekerja, pada tahun 2014 aku mengalami kecelakaan sepeda motor hingga tulang kakiku patah dan membuatku cacat. Di saat tidak punya penghasilan, ibuku yang sudah lama lumpuh akibat stroke juga harus terus berobat. Saat itulah, aku bertekat bila bisa keluar dari ujian akan senang hati membantu sesama,” ungkapnya beberapa waktu lalu.

Warga Desa Mejobo, Kecamatan Mejobo, Kudus itu mengatakan, karena sekarang dia memiliki usaha potong rambut, dirinya membantu sesama dengan menggratiskan biaya potong rambut. Menurutnya, bagi siapa saja yang masuk kategori tidak mampu atau yatim piatu, boleh potong rambut di tempatnya tanpa dipungut biaya, seumur hidup.

Dirinya berharap, orang yang potong rambut dan masuk kriteria, agara berbicara, agar dirinya bisa menjalankan niatnya. “Karena untuk yang belum aku kenal, aku kan tidak tahu pelanggan tersebut yatim, piatu dan duafa apa tidak. Ngomong itu ya agar orang yang masuk dalam kategori tidak ada yang terlewatkan satupun,” ungkapnya.

Pria lajang itu berujar, tidak merasa terbebani sama sekali dengan ide menggratiskan ongkos potong rambut bagi orang yang masuk kategori itu. Menurutnya, rezeki sudah ada yang mengatur dan tidak mungkin tertukar. Manusia tugasnya hanya berusaha dan berdoa dan jangan takut beramal.

Selama ini, dia mengaku hampir setiap pekan ada sekitar tiga hingga empat orang yang masuk kategori datang untuk potong rambut. Sedangkan yang bayar biasanya sehari bisa mendapatkan pelanggan sekitar 15 orang dengan tarif Rp 7 ribu per orang.

“Selain di sini, aku juga menerima panggilan dengan syarat yang potong rambut minimal ada tiga orang dengan tarif Rp 10 ribu per orang. Untuk lima orang harga perkepala Rp 8 ribu, sedangkan 10 orang tarifnya makin murah yakni Rp 6 ribu per orang,” jelasnya.